Wisata Fenomena Alam Di Tahun 2019

Wisata Fenomena Alam Di Tahun 2019

Penduduk di seluruh dunia akan disajikan fenomena alam yang menghiasi langit Bumi sepanjang 2019. Mulai dari Supermoon, hujan meteor hingga pencatatan sejarah eksplorasi angkasa oleh manusia akan menghiasi perjalanan sains pada 2019.

Misalnya, pada tahun 2019 ini diprediksi terjadi lima kali gerhana. Dimulai dari gerhana matahari parsial 5 Januari 2019; gerhana bulan total 20 Januari 2019; gerhana matahari total 2 Juli 2019; gerhana bulan parsial 17 Juli 2019; dan gerhana matahari cincin 26 Desember 2019.

Dan berikut daftar lengkap fenomena-fenomena tersebut,

 

New Horizons ke Ultima Thule

Tepat Tahun Baru 2019, pesawat luar angkasa Badan Antariksa Amerika (NASA) New Horizons akan mencapai Ultima Thule. Titik itu adalah yang terjauh yang pernah dicapai objek manusia. Ultima Thule berada di Sabuk Kuiper yang jaraknya sekitar 4 miliar mil dari Bumi, berada di dekat Pluto. Bentuknya disebut para astronom mirip kulit kacang.

Sepanjang 31 Desember 2018 hingga 1 Januari 2019, New Horizons akan terbang, mempelajari, dan memotret objek misterius tersebut.

 

Hujan Meteor Quadrantids

Pada 2019, Cahaya Bulan yang cerah tidak akan menghalangi hujan meteor tahunan Quadrantids. Hujan itu mulai memuncak sekitar jam 9 malam pada 3 Januari dan berlangsung hingga subuh keesokan harinya.

Menurut EarthSky, Quadrantids dapat menghasilkan 50 hingga 100 meteor per jam. Tetapi pengamat langit perlu menemukan langit malam yang gelap untuk melihat lebih dari satu meteor per menit.

 

Supermoon

Tanggal 21 Januari, 19 Februari dan 20 Maret 2019 akan terjadi fenomena Supermoon. Dalam masa ini, bulan akan terlihat lebih besar karena jaraknya mendekat dengan bumi.

Another Lost Stories :  MacBook Air 2018 Terbaru Resmi Dijual di Indonesia

Supermoon akan membuat Bulan terlihat 30 persen lebih terang dan 14 persen lebih besar dibanding purnama lainnya.

Fenomena ini dapat disaksikan di penjuru Indonesia yang bebas polusi cahaya.

 

 

Gerhana Bulan Parsial

Gerhana Bulan Parsial atau Gerhana Bulan Sebagian merupakan peristiwa ketika hanya sebagian wajah bulan saja yang terhalang oleh bayangan umbra bumi. Fenomena ini bakal terjadi pada 17 Juli 2019.

Info Astronomi menulis bahwa kejadian tersebut akan berlangsung setidaknya selama 5 jam 34 menit dengan fase pasial hanya selama 2 jam 58 menit. Wajah Bulan akan tertutup sebesar 65 persen ke bayangan umbra Bumi.

Gerhana Bulan Parsial dapat diamati mulai pukul 01.34 WIB. Fase tergigitnya bulan dimulai pukul 03.01 WIB, puncaknya pada 04.30 WIB dan berakhir pada 05.59 WIB.

Fenomena ini dapat disaksikan di penjuru Indonesia yang bebas polusi cahaya.

Another Lost Stories :  So Why Did They Decide To Call It "Java"?

 

Hujan Meteor Perseid

Perseid merupakan hujan meteor tahunan yang memiliki intensitas tinggi, antara 50-100 meteor per jam. Hujan ini dapat diamati dengan mudah karena meteornya berwarna cerah. Fenomena ini akan terjadi pada 13 Agustus dan dapat diamati di rasi bintang Perseus di belahan utara langit tanpa bantuan teleskop.

Fenomena ini dapat disaksikan di penjuru Indonesia yang bebas polusi cahaya.

 

Hujan Meteor Orionid

Hujan meteor yang satu ini merupakan remahan Komet Halley yang hanya terlihat dari Bumi setiap 75-76 tahun sekali. Intensitas jatuhnya sekitar 10-20 meteor dalam setiap jam pada puncaknya yang akan terjadi pada 21 Oktober 2019.

Orionid akan dapat diamati di tengah rasi bintang Orion yang membentuk pedang di ekuator langit dan terlihat di seluruh dunia. Puncak hujan akan dimulai pada tengah malam.

Fenomena ini dapat disaksikan di penjuru Indonesia yang bebas polusi cahaya.

 

Hujan Meteor Geminid

Seperti namanya, hujan meteor ini memiliki titik radian di rasi bintang Gemini. Hujan meteor yang satu ini akan mencapai puncaknya pada 14 Desember dengan intensitas 80 meteor per jam.

Namun berbeda dari hujan meteor lainnya yang umumnya mulai dapat diamati pada tengah malam, hujan meteor Geminid baru dimulai pada pukul 2 dini hari menjelang Matahari terbit. Dia dapat diamati dengan mata telanjang di seluruh dunia.

Hujan meteornya cenderung tebal, berwarna putih dan jatuh dengan cepat. Dia berasal dari komet batuan bernama 3200 Phathon.

 

Another Lost Stories :  Minumlah Kopi Tanpa Gula

Gerhana Matahari Cincin

Gerhana Matahari Cincin atau Ring of Fire akan terjadi pada 26 Desember 2019, bertepatan dengan peringatan 15 tahun musibah tsunami yang melanda Aceh.

Pulau Sumatera dan Pulau Kalimantan dilewati oleh fenomena ini dan untuk wilayahnya ialah Pulau Sumeulue, Sinabang, Aceh Singkil, Sibolga, Padangsidempuan, Balaipungut, Tanjungpinang, Kijang, Sungai Raya, Pemangkat, Singkawang, Tanjung Selor hingga Derawan.

Daerah yang tidak dilalui jalur Gerhana Matahari Cincin hanya akan melihat Gerhana Matahari Parsial, berupa tergigitnya matahari setengah. Sementara Jakarta termasuk dalam kawasan yang dilalui jalur Gerhana Matahari Parsial.

 

 

Semoga bermanfaat ..

 

Another Lost Stories :

 


Subscribe for FREE Monthly eDigest

* indicates required

Please Leave Your Comment ..