Ulumul Qur’an (Kajian Sejarah Dan Perkembangannya) – Bagian 3 : Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Ulumul Qur’an

Ulumul Qur’an (Kajian Sejarah Dan Perkembangannya) – Bagian 3 : Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Ulumul Qur’an

Tulisan lanjutan dari : Bagian 2 : Ruang Lingkup Ulumul Qur’an

 

Sebagai ilmu yang terdiri dari berbagai cabang dan macamnya, Ulumul Qur’an tidak lahir sekaligus. Ulumul Qur’an menjelma menjadi suatu cabang disiplin ilmu setelah melalui proses pertumbuhan dan perkembangannya. Dalam hal ini tentu banyak pribadi dan kondisi yang membuatnya sebagai cabang ilmu yang penting untuk memahami kitab suci Al Qur’an.

Berikut ini kita lihat bagaimana alur lahirnya cabang ilmu ini.

 

Masa Sebelum Penulisan

Di masa Rasulullah dan para sahabat, Ulumul Qur’an belum dikenal sebagai suatu ilmu yang berdiri sendiri dan tertulis. Para sahabat adalah orang Arab asli yang dapat merasakan struktur bahasa Arab yang tinggi dan memahami apa yang diturunkan kepada Rasul SAW. Bila mereka menemukan ksulitan dalam memahami ayat-ayat tertentu, mereka dapat menanyakan langsung kepada Rasul SAW.

Sebagai contoh, ketika turun ayat, “dan mereka tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman …” (Q.S Al An’am : 82).

Para sahabat bertannya, “siapa dari kami yang tidak menganiaya (menzalimi) dirinya?”.

Nabi menafsirkan kata zulm di sini dengan syirik berdasarkan ayat. sesungguhnya syirik itu kezaliman yang besar” ( Q.S Luqman :13)

Ada tiga faktor yang menyebabkan Ulumul Qur’an tidak dibukukan di masa Rasul dan Sahabat.

  1. kondisinya tidak membutuhkan karena kemampuan mereka yang besar untuk memahami Al-Qur’an dan rasul dapat menjelaskan maksudnya.
  2. Para sahabat sedikit sekali yang pandai menulis
  3. Adanya larangan Rasul untuk menuliskan selain Al Quran.

Semuanya ini merupakan faktor yang menyebabkan tidak tertulisnya ilmu ini baik di masa Nabi maupun di masa sahabat.

 

Masa Penulisan Ulumul Qur’an

Di zaman khalifah Usman Bin Affan, wilayah Islam bertambah luas sehingga terjadi pembauran antara penakluk Arab dan bangsa-bangsa yang tidak mengetahui bahasa Arab. Keadaan ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan sahabat akan terjadinya perpecahan di kalangan muslimin tentang bacaan Al Quran, selama mereka tidak memiliki sebuah Al Quran yang menjadi standar bagi bacaan mereka. Sehingga disalinlah dari tulisan aslinya sebuah Al Quran yang disebut Mushaf Imam. Dengan terlaksananya penyalinan ini, maka berarti Usman telah meletakkan suatu dasar Ulumul Qur’an yang disebut Rasm Al Quran atau Ilmu Al Rasm Al Utsmani.

Di masa Ali terjadi perkembangan baru dalam ilmu Qur’an. Karena melihat banyaknya umat Islam yang berasal dari bangsa non Arab, kemerosotan dalam bahasa Arab, dan kesalahan pembacaan Al Quran. Ali memerintahkan Abu Al Aswad Al Duali untuk menyusun kaidah-kaidah bahasa Arab. Hal ini dilakukan untuk memelihara bahasa Arab dari pencemaran dan menjaga Al Quran dari keteledoran pembacanya. Tindakan khalifah Ali ini dianggap perintis bagi lahirnya ilmu nahwu dan I’rab Al Quran.

Pada zaman Bani Umayyah, kegiatan para sahabat dan tabi’in terkenal dengan usaha-usaha mereka yang tertumpu pada penyebaran ilmu-ilmu Al Quran melalui jalan periwayatan dan pengajaran secara lisan, bukan melalui tulisan atau catatan. Kegiatan-kegiatan ini dipandang sebagai persiapan bagi masa pembukuannya. Orang yang paling berjasa dalam usaha periwayatan ini adalah khalifah yang empat, Ibn Abbas, Ibn Mas’ud, Zaid Ibn Tsabit, Abu Musa Al Asy’ari, Abdullah Ibn Al Zubair dari kalangan sahabat. Sedangkan dari kalangan tabi’in ialah Mujahid, Atha’, Ikrimah, Qatadah, Al Hasan Al Bashri, Sa’id Ibn Jubair, dan Zaid Ibn Aslam di Madinah. Kemudian Malik bin Anas dari generasi tabi’tabi’in. mereka semuanya dianggap sebagai peletak batu pertama bagi apa yang disebut ilmu tafsir, ilmu asban al-nuzul, ilmu nasikh dan mansukh, ilmu gharib Al Qur’an dan lainnya.

Pada abad ke-2, ulumul Qu’an memasuki masa pembukuan. Para ulama memberikan prioritas perhatian mereka kepada ilmu tafsir karena fungsinya sebagai Umm Al ‘ulum al Qur’aniah (induk ilmu-ilmu Al Quran). Penulis pertama dalam tafsir adalah Syu’bah Ibn al-Hajjaj, Sufyan Ibn ‘Uyaynah, dan Wali’ Ibn Al Jarrah.

Pada abad ke-3, terkenal seorang tokoh tafsir, yaitu Ibn Jarir Al Thabari. Dia orang pertama membentangkan berbagai pendapat dan men-tarjih sebagiannya atas lainnya. Ia juga mengemukakan I’rab dan istinbath (penggalian hukum dari Al Quran). Di abad ini juga lahir ilmu asbab al-Nuzul, ilmu nasikh dan mansukh, ilmu tentang ayat-ayat Makiyah dan Madaniyah.

Berikut ini dapat kita lihat karya ulama pada abad ke -3, yaitu:

  • Kitab Asbab al-Nuzul karangan Ali Ibn Al-Madini
  • Kitab nasikh dan mansukh, Qiraat dan keutamaan Al Quran disusun oleh Abu ‘Ubaid al-Qasim Ibn Salam.
  • Kitab tentang ayat-ayat Makiyah dan Madaniyah karya Muhammad Ibn Ayyub al Dharis.

Di abad ke-4 lahir ilmu gharib Al Quran dan beberapa kitab Ulumul Qur’an. Adapun Ulama ulumul Qur’an pada masa ini adalah:

  • Abu Bakar Muhammad Ibn al-Qasim al-Anbari, kitabnya ‘Ajaib Ulumul Qur’anIsi kitab ini tentang keutamaan Al Quran, turunnya atas tujuh huruf, penulisan mushaf-mushaf, jumlah surah, ayat dan kata –kata Al Quran.
  • Abu al-Hasan al-‘Asy’ari, kitabnya Al Mukhtazan fi Ulumul Qur’an
  • Abu Bakar Al Sijistani, kitabnya Gharib Al Quran
  • Muhammad Ibn Ali Al Adfawi, kitabnya Al Istighna fi Ulumul Qur’an

Di abad ke-5 muncul pula tokoh dalam ilmu qiraat. Adapun para tokoh serta karyanya adalah;

  • Ali Ibn Ibrahim Ibn Sa’id al- Hufi, kitabnya Al Burhan fi Ulumul Qur’an dan I’rab Al- Qur’an
  • Abu Amr Al Dani, kitabnya Al Taisir fi al Qiraat al Sab’I dan Al Muhkam fi Al Nuqath
  • Al- Mawardi, kitabnya tentang amtsal Qur’an

Pada abad ke-6 lahir pula ilmu Mubhamat Al Quran. Abu Qasim Abdur Rahman al Suahaili mengarang Mubhamat Al Quran. Ilmu ini menerangkan lafaz-lafaz Al Quran yang maksudnya apa dan siapa tidak jelas. Ibn al Jauzi menulis kitab Funun al Afnan Fi ‘Aja’ib Al Quran dan kitab Al Mujtaba fi Ulum Tata’allaq bi Al Quran.

Pada abad ke-7 Ibn Abd al Salam yang terkenal dengan sebutan Al’Izz mengarang kitab Majaz Al Quran. ‘Alam al Din al- Sakhawi mengarang tentang Qiraat. Ia menulis kitab Hidayah al Murtab fi al Mutasyabih. Abu Syamah Abd al Rahman Ibn Ismail al Maqdisi, menulis kitab Al Mursyid al Wajiz fi ma Yata’allaq bi Al Qur’an al ‘Aziz.

Pada abad ke-8 H muncul beberapa ulama yang menyusun ilmu-ilmu baru tentang Al Quran, seperti berikut ini:

  • Ibn Abi al Ishba’, kitabnya tentang badai Al Quran. Ilmu ini membahas berbagai macam keindahan bahasa dalam Al Quran
  • Ibn Qayyim, menulis tentang Aqsamul Qur’an
  • Najamuddin al Thufi, menulis tentang Hujaj Al Quran. Isi kitab ini tentang bukti-bukti yang dipergunakan Al Quran dalam menetapkan suatu hukum
  • Abu Hasan al Mawardi menyusun ilmu amstal Al Quran
  • Badruddin al Zarkasyi, kitabnya Al Burhan fi Ulum Al Quran

Pada abad ke- 9 muncul beberapa ulama melanjutkan perkembangan ilmu-ilmu Qur’an, yaitu:

  • Jalaluddin al Bulqini, kitabnya Mawaqi’ al Ulum min Mawaqi’ al Nujum. Menurut Al Suyuthi, Al Buqini dipandang sebagai ulama yang mempelopori penyusunan Ulumul Qur’an yang lengkap. Sebab dalam kitabnya tercakup 50 macam ilmu Al Quran
  • Muhammad Ibn Sulaiman al Kafiaji, kitabnya Al Tafsir fi Qawa’id al Tafsir. Di dalamnya diterangkan makna tafsir, takwil, Al Quran, surat dan ayat. Juga dijelaskan dalam kitabnya itu tentang syarat-syarat menafsirkan ayat-ayat Al Quran.
  • Jalaluddin al Suyuthi, kitabnya Al Tahbir fi Ulum al Tafsir (873 H). Kitab ini memuat 102 macam ilmu-ilmu Al Quran. Menurut sebagian Ulama. Kitab ini dipandang sebagai kitab Ulumul Qur’an yang paling lengkap. Al Suyuthi merasa belum puas, beliau menyusun lagi sebuah kitab Al Itqan fi Ulum Al Quran. Di dalam kitab ini terdapat 80 macam ilmu-ilmu Al Quran secara padat dan sistematis. Menurut al Zarqani kitab ini merupakan kitab pegangan bagi para peneliti dan penulis dalam ilmu ini. Setelah wafatnya Al Suyuthi tidak terlihat munculnya penulis yang memiliki kemampuan seperti kemampuannya. Sehingga terjadi kevakuman sejak wafatnya Imam Al-Suyuthi sampai dengan akhir abad ke 13 H.25
Another Lost Stories :  #JumatBerkah : Dialah Yang Menciptakan Segala Apa Yang Ada Di Bumi Untukmu

Sejak penghujung abad ke-13 H hingga abad ke-15, perhatian ulama terhadap penyusunan kitab-kitab Ulumul Qur’an kembali bangkit. Kebangkitan ini sejalan dengan kebangkitan modern dalam perkembangan ilmu-ilmu agama lainnya. Di antara Ulama yang menulis tentang Ulumul Qur’an ialah:

  • Syeikh Thahir Al Jazairi, kitabnya Al Tibyan li Ba’dh Al Mabahits Al Muta’alliqah bi Al Quran
  • Muhammad Jamaluddin Al Qasimi (1332 H) kitabnya, Mahaasin Al Takwil
  • Muhammad Abd Al ‘Azhim Al Zarqani, kitabnya Manaahil Al ‘Irfan Fi ‘Ulum Al Quran
  • Musthafa Shadiq Al-Rafi’, kitabnya I’jaz Al Quran
  • Sayyid Quttub, kitabnya Al Thaswir al Fanni Fi Al Quran dan Fi Zilal Al Quran
  • Muhammad Rasyid, kitabnya Tafsir al Mannar
  • Shubhi al Shalih, kitabnya Mabaahits Fi Ulum Al Quran
  • T.M. Hasbi Ash-Shiddieqi, kitabnya ilmu-ilmu Qur’an
  • Rif’at Syauki Nawawi dan Ali Hasan, kitabnya Pengantar ilmu Tafsir
  • M. Quraish Shihab, kitabnya Membumikan Al Quran

Adapun mengenai kapan lahirnya istilah Ulum Al Quran, terdapat tiga pendapat, yaitu:

  1. Pendapat umum di kalangan para penulis sejarah ‘Ulum Al Quran mengatakan bahwa lahirnya istilah ‘Ulum Al Quran pertama kali ialah pada abad ke-7, 
  2. Ibn Sa’id yang terkenal dengan sebutan Al Hufi, dengan demikian menurutnya, istilah ini lahir pada permulaan abad ke-15,
  3. Shubhi Al Shalih berpendapat lain. Menurutnya, orang yang pertama kali menggunakan istilah ‘Ulum Al Quran ialah Ibn Al Mirzaban. Dia berpendapat seperti ini berlandasan pada penemuannya tentang beberapa kitab yang berbicara tentang kajian Al Quran yang telah mempergunakan istilah ‘Ulum Al Quran. Yang paling awal menurutnya ialah kitab Ibn Al Mirzaban yang berjudul Al Hawi Fi ‘Ulum Al Quran yang ditulis pada abad ke-3. Hal ini juga disepakti oleh Hasbi As-shiddieqi.

Wallahu a’lam bish shawabi ..

bersambung ke : Bagian 4

SaveSave

SaveSave

 


Subscribe for FREE Monthly eDigest

* indicates required

Please Leave Your Appreciation