Tour of Duty : Undangan Ke Kepulauan Kai, Kabupaten Maluku Tenggara Bagian Ke-1

Kali ini saya melakukan perjalanan dinas atas instruksi menggantikan atasan memenuhi undangan menghadiri Festival Pendidikan Kei 2017 di Kepulauan Kai Kecil, Kabupaten Maluku Tenggara, Provinsi Maluku.

Perjalanan dinas yang terhitung dari tanggal 6 sampai 9 Agustus 2017 ini menunjukkan bahwa masih terbatasnya akses transportasi di daerah-daerah terpencil. Sedianya undangan atas Festival Pendidikan Kei 2017 yang diadakan pada tanggal 8 Agustus, saya harus berangkat 2 hari sebelum acara, karena akses transportasi menuju Kepulauan Kei dengan menggunakan pesawat sangat tidak memungkinkan dicapai dalam satu hari perjalanan dari Jakarta.

Dengan menggunakan pesawat dari maskapai Garuda Indonesia, saya berangkat pada tanggal 6 Agustus 2017 dengan ditemani Taufiq Azmar, biasa dipanggil “gembul”, yang bertugas sebagai dokumentator, berangkat dari Bandar Udara Soekarno Hatta, Tangerang dijadwalkan pada jam 08.15 WIB (Waktu Indonesia Barat) dan tiba di Ambon jam 13.55 WIT (Waktu Indonesia Timur). 

Perjalanan yang memakan waktu sekitar 3 jam 40 menit itu diwarnai cuaca yang cerah meskipun prakiraan cuaca yang saya lihat malam hari sebelum keberangkatan akan diwarnai cuaca mendung dan hujan.

Setibanya di Bandar Udara Pattimura, Ambon, saya dan Gembul berpisah, karena kebetulan saya dijemput oleh adik kelas yang sekarang berdomisili di kota Ambon dan Gembul dijemput oleh teman-teman dari Program Generasi Sehat Cerdas Provinsi Maluku. Rencananya nanti kami akan bertemu di Swiss Belhotel Ambon, tempat kami menginap selama di Ambon menunggu penerbangan ke Kepulauan Kei yang terjadwal pada jam 4 sore keesokan harinya. Maka hari ini saya puaskan ber-reuni bersama junior “sepernakalan” yang sudah sekitar 14 tahun tidak bertemu.

Another Lost Stories :  Review : Swiss Belhotel Ambon
bersama Dr. Ubaidillah, SpB, anak betawi yang memilih mengabdi di timur Indonesia — gue BANGGA sama lo!

Dia adalah Ubaidillah, biasa dipanggil “ubay”, seorang dokter spesialis bedah umum yang asli betawi dan memilih mengabdi di timur Indonesia tepatnya di kota Ambon. Dan sepertinya dia memang sudah jatuh cinta dengan Maluku ini. Terbukti dengan berkali-kalinya dia memperpanjang kontrak sebagai Pegawai Tidak Tetap saat menjadi dokter umum di Pulau Seram dahulu, bahkan saat ini istrinya yang berprofesi sebagai dokter spesialis kebidanan dan kandungan pun merupakan kelahiran Ambon. Tidak terbayang bagaimana anak Betawi bicara dengan logat khas Maluku, bwahahahaha …

“belum sah jadi dokter bedah di Maluku kalau belum makan telur setengah matang 3 butir sekaligus setiap hari” .. bwahahaha ..

Selama perjalanan dari Bandar Udara Pattimura, kami bernostalgia saat kuliah dan saat menjalani co-ass dulu. Terus terang saya bangga melihat ubay bisa berhasil seperti sekarang ini, tetapi itu hanya terucap dalam hati saja, takutnya kalau saya ucapkan, dia akan terbang ke awang-awang, hehehe ..

Ubay membawa saya berkeliling kota Ambon, dimana terakhir saya menginjakkan kaki di kota ini pada tahun 2008, sangat berbeda sekali, pembangunan sangat maju, terlihat dari padatnya lalu lintas dan ramainya pusat-pusat perekonomian di kota ini. Sudah tidak tampak lagi sisa-sisa kerusuhan besar yang lalu dan semoga Maluku selalu manise dengan “pela gandong”-nya.

Perjalanan saya dengan Ubay, setelah mengelilingi kota Ambon dan makan siang dengan papeda dan kuah kuning, berakhir di warung kopi Joas dengan segelas kopi hitam ditemani sukun goreng dan sambal terasi.

 


Series Tour of Duty : Undangan Ke Kepulauan Kai

 

Another Lost Stories :

 


Subscribe for FREE Monthly eDigest

* indicates required

Please Leave Your Comment ..