Seri Smart Hospital (2) : Tren Dan Manfaat Sistem Transformasi Digital Menuju Era Kesehatan 4.0

Executive Overview

Sektor kesehatan tidak dapat terlepas dari pengaruh kemajuan teknologi digital. Industri kesehatan perlu mempersiapkan diri dalam menuju era disrupsi kesehatan 4.0. Berbagai tantangan dan permasalahan khususnya dari segi big data, keamanan data, regulasi, dan sumber daya manusia tidak boleh menjadi penghambat dalam mewujudkan sistem transformasi digital yang berkualitas. Kebutuhan rumah sakit yang berhasil diidentifikasi beserta rekomendasi yang ditujukan kepada berbagai pihak atau stakeholders terkait, diharapkan dapat menjadi solusi efektif untuk membenahi berbagai tantangan yang ada sehingga pada akhirnya semua rumah sakit dapat siap sedia untuk berpartisipasi dalam memberikan layanan kesehatan paripurna di era disrupsi 4.0 ini.


Perkembangan teknologi di dunia kesehatan sedikit tertinggal dari perkembangan sektor lainnya seperti e-money, e-commerce dan travel. Bahkan menurut Electronic Medical Record Adoption model, level adopsi rekam medis elektronik atau e-MR bervariasi dengan rentang sekitar 3% di Eropa sampai 35% di Amerika, atau dengan arti lain bahwa e-MR belum sepenuhnya diterapkan sebagai pelayanan rutin.6 Selain itu, model disrupsi di era 4.0 telah membuat perubahan paradigma pelayanan dari volume sentris menuju peningkatan value of care atau yang berpusat pada pasien. Transformasi digital membuat industri kesehatan harus menjadikan pasien sebagai pusat dari sistem pelayanan mereka dengan mencari tahu dan menggali apa yang diperlukan dan diharapkan oleh pasien. 7

Berbagai tren perkembangan transformasi digital juga telah membentuk pola pikir beberapa fasilitas kesehatan dan stakeholder di Indonesia untuk turut ambil bagian dalam proses perkembangannya. Berikut dipaparkan beberapa tren digital di era kesehatan 4.0 ini:8

  1. Meningkatnya permintaan terhadap pelayanan kesehatan yang sesuai kebutuhan
    Industri kesehatan sedang memasuki era inovasi digital dimana pasien mencari pelayanan yang langsung mampu menjawab kebutuhan mereka karena terbatas oleh kesibukan sehari-hari. Menurut data DMN3, konsumen yang mencari informasi medis di internet, sebesar 47% mencari informasi mengenai dokter, 38% rumah sakit dan fasilitas kesehatan, serta 77% untuk melakukan booking jadwal pemeriksaan kesehatan. Berdasarkan fakta tersebut, perlunya upaya dari tim manajemen rumah sakit untuk mencari tahu kebutuhan target konsumen atau pasien dan menggabungkannya ke dalam sistem digital (misalnya kemudahan akses dengan menggunakan smartphone). Kebutuhan pasar inilah yang sedang dimanfaatkan oleh beberapa perusahaan health technology yang akhir-akhir ini semakin marak berkembang di masyarakat.
  2. Pentingnya pemanfaatan big data dalam pelayanan kesehatan
    Big data menggabungkan informasi dalam jumlah yang sangat besar serta format yang beragam yaitu dari penggunaan media sosial, e-commerce, transaksi online, transaksi keuangan, serta mengidentifikasi suatu tren dan pola bisnis di masa depan. Dalam industri kesehatan, big data dapat memberikan beberapa keuntungan, termasuk tingkat kesalahan medis yang lebih rendah, memfasilitasi kesehatan pencegahan, dan prediksi yang lebih akurat untuk merekrut SDM (misalnya dengan membantu RS dan klinik memprediksi adanya peningkatan jumlah pasien di suatu masa tertentu sehingga membantu manajemen memutuskan untuk menambah jumlah staf di waktu tersebut). Selain kebutuhan investasi di bidang big data, pengolahan dan analisa dari data tersebut juga diperlukan untuk mengidentifikasi kelemahan bisnis dan membantu manajemen untuk lebih memahami target pasien yang dituju.
  3. Mengobati pasien dengan teknologi VR (Virtual Reality)
    Teknologi VR tidak hanya digunakan di salah satu bidang kedokteran saja tetapi sudah meluas penggunaannya untuk mengobati nyeri, kecemasan, PTSD (post-traumatic stress disorder), dan penyakit stroke. Beberapa dokter dan residen juga telah memanfaatkan VR untuk mempertajam keterampilan mereka di bidang pembedahan. VR dalam bentuk headset dapat membantu si pemakai untuk beraktivitas dan anak-anak dengan autisme untuk belajar mengenal sekitarnya. VR dan AR (augmented reality) pada skala global diprediksi mencapai nilai sekitar $5.1 miliar pada tahun 2025. VR diharapkan dapat menjadi metode komunikasi yang membuat penyedia layanan kesehatan dapat memahami kebutuhan pasien dan berkomunikasi dengan cara yang lebih baik.
  4. Alat kesehatan yang wearable (dapat dipakai manusia)
    Di era digital saat ini, pasien sudah mulai fokus pada kesehatan pencegahan dan lebih peduli untuk mengetahui berbagai hal yang berkaitan dengan informasi medis. Implikasinya, beberapa perusahaan telah berinvestasi dalam bidang alat kesehatan yang dapat dipakai pasien untuk menentukan status kesehatan mereka. Alat kesehatan yang sudah ada antara lain seperti detektor detak jantung, pelacak olahraga, alat pengukur debit keringat, alat untuk mengukur kadar gula darah, dan kadar oksigen. Berbagai alat kesehatan tersebut dapat meningkatkan efisiensi keuangan pelayanan kesehatan, yang ditunjukkan dengan data dari US bahwa teknologi tersebut mampu menghemat dana sampai dengan $7 juta per tahunnya.
  5. Pelayanan berbasis analisis prediktif
    Informasi besar yang dikumpulkan dari big data dan sumber lainnya (seperti media sosial) dapat membantu perusahaan untuk mengembangkan layanan rekomendasi kesehatan kepada pasien. Ini yang disebut dengan pelayanan kesehatan prediktif, dimana kita sekarang dapat memperkirakan penyakit dan kelainan apa saja yang dapat mewabah di masa depan. Dari perkiraan penyakit atau wabah yang akan terjadi, sarana kesehatan tentunya dapat mengantisipasi hal tersebut dan mempersiapkan langkah-langkah pencegahan atau penanganan yang dibutuhkan.
  6. Perkembangan Artificial Intelligence
    Artificial intelligence (AI) merupakan suatu inovasi yang sangat besar di bidang kesehatan. Banyak pihak di industri kesehatan yang bersedia untuk berinvestasi di AI senilai jutaan dolar. AI yang berkembang saat ini memiliki banyak versi, salah satunya adalah robot droid yang dirancang untuk membantu pekerjaan perawat di RS dan melakukan tugas rutin seperti mengecek stok atau persediaan obat. Diperkirakan bahwa di masa depan, kekuatan AI akan semakin diperluas manfaatnya seperti dalam bidang precision medicine, radiologi, penemuan obat terbaru, dan ilmu genomic.
  7. Blockchain dan rekam medis elektronik
    Blockchain merupakan suatu kumpulan file atau data transaksi yang tertuang di dalam database komputer atau dalam bentuk digital. Blockchain memungkinkan terjadinya pertukaran informasi transaksi keuangan yang aman antara satu pihak dengan yang lainnya. Dalam bidang pelayanan kesehatan, blockchain terbukti efektif untuk mencegah kebocoran data, meningkatkan akurasi data di rekam medis, dan melakukan efisiensi biaya.
Another Lost Stories :  Kebijakan Kesehatan dan Sistem Riset

Setelah melihat berbagai tren teknologi yang sedang berkembang, tentunya kita juga perlu mengetahui beberapa manfaat yang bisa diperoleh konsumen atau pasien sehubungan dengan perkembangan digitalisasi di era kesehatan 4.0 ini, antara lain yakni:7

  1. Pasien diarahkan untuk menemukan dokter yang tepat sesuai kebutuhan
    Dalam hal ini masyarakat berhak untuk mencari informasi detil mengenai tipe dokter seperti apa yang mereka perlukan, misalnya spesialisasi apa, praktek di RS apa, latar belakang pendidikan yang ditempuh, serta pengalaman medis yang diperolehnya. Dengan menemukan dokter dan fasilitas kesehatan yang tepat, tingkat kepuasan pasien diharapkan juga akan semakin meningkat.7
  2. Masyarakat dapat memperoleh akses kesehatan yang merata
    Dengan teknologi digital, hal ini sangat dimungkinkan bahwa akses kesehatan juga bisa diperoleh oleh masyarakat di daerah terpencil. Telemedicine bisa menjadi salah satu solusi terhadap kebutuhan akan akses pelayanan kesehatan yang merata di semua daerah. 7
  3. Konsumen mendapat informasi mengenai akuntabilitas suatu pelayanan kesehatan
    Ekspektasi pasien terhadap sistem pelayanan kesehatan kian meningkat. Ketika pasien tidak puas akan suatu pelayanan, maka mereka dapat segera mengutarakannya di akun sosial media. Adanya fakta bahwa masih minimnya sarana umpan balik dalam teknologi kesehatan, dapat menjadi pertimbangan bagi kita untuk mengadaptasi hal tersebut di era digital 4.0 ini.7
  4. Adanya transparansi keuangan di sektor kesehatan
    Saat ini, masih banyak ketimpangan dari segi biaya kesehatan yang harus ditanggung konsumen. Ketimpangan yang dimaksud adalah bahwa masyarakat kerapkali tidak mengetahui secara jelas berapa biaya yang harus mereka keluarkan untuk mendapatkan suatu akses pelayanan. Perbedaan nilai biaya pelayanan antar fasilitas juga menjadi suatu masalah. Dengan teknologi digitalisasi, diharapkan permasalahan transparansi biaya kesehatan bisa diminimalisasi. 7
  5. Interaksi harmonis yang terjadi antara dokter dengan pasien
    Interaksi pasien dengan dokter yang berkualitas sangat jarang terjadi. Menurut sebuah survey, hanya sekitar 20-30% pasien yang memiliki akses digital untuk konsultasi medis atau pengingat elektronik (electronic reminder). Industri kesehatan membutuhkan pendekatan yang berpusat pada pasien. Transformasi digital diharapkan dapat menjadi solusi agar dokter dapat menggali informasi yang lebih dalam mengenai pasien mereka. 7
Another Lost Stories :  Review: Kamera Mirrorless Panasonic Lumix DMC-GX85

Berbagai tren dan manfaat yang ada di era kesehatan 4.0 seharusnya membuat industri kesehatan semakin berinisiatif dan memiliki daya saing untuk ikut mengembangkan sistem serupa di fasilitas pelayanan masing-masing. Akan tetapi, hal ini tentunya tidak terlepas dari berbagai hambatan dan tantangan dalam proses pelaksanaannya. Di bagian selanjutnya dari white paper ini akan dipaparkan apa saja tantangan yang sedang dihadapi oleh rumah sakit dalam mempersiapkan dan mewujudkan transformasi digital dalam sistem pelayanan kesehatan Indonesia.


Seri Smart Hospital :

  1. Kesiapan Rumah Sakit Menghadapi Era Digitalisasi Menuju Smart Hospital 4.0
  2. Tren dan Manfaat Sistem Transformasi Digital menuju Era Kesehatan 4.0
  3. Keuntungan Analisis Big Data, Pelaporan, Data Mining dan Manajemen Pengetahuan Pada Sektor Kesehatan, Khususnya Rumah Sakit
  4. Tantangan Rumah Sakit Di Era Kesehatan 4.0 Dalam Mewujudkan Sistem Transformasi Digital
  5. Kebutuhan Rumah Sakit dalam Menjawab Tantangan Dan Permasalahan Era Kesehatan 4.0, Terutama Dari Aspek Data
  6. Rekomendasi Terhadap Stakeholders Terkait Untuk Menjawab Tantangan Era Kesehatan 4.0

Referensi

  1. Newman, 2019, “Top 6 Digital Transformation Trends In Healthcare For 2019”, di https://www.forbes.com/sites/danielnewman/2019/01/03/top-6-digital-transformation-trends-in-healthcare-for-2019/#7c7c0af36911
  2. Chilukuri and Kuiken, 2017, “Four keys to successful digital transformations in healthcare”, di https://www.mckinsey.com/business-functions/mckinsey-digital/our-insights/four-keys-to-successful-digital-transformations-in-healthcare
  3. Adella, April 2019, “Digitalisasi Pelayanan Kesehatan dengan Penerapan Revolusi Industri 4.0” di https://aptika.kominfo.go.id/2019/04/digitalisasi-pelayanan-kesehatan-dengan-penerapan-revolusi-industri-4-0/
  4. Kleyman, 2017, “Utilizing People, Process, and Technology in Health Data Security”, di https://healthitsecurity.com/news/utilizing-people-process-and-technology-in-health-data-security
  5. “Lima Tantangan Transformasi Digital Pelayanan Kesehatan di Indonesia”, 26 Maret 2019 di https://medigo.id/jurnal/lima-tantangan-transformasi-digital-pelayanan-kesehatan-di-indonesia
  6. Gareth L. Jones, Zinaida Peter, Kristin-Anne Rutter, and Adam Somauroo, Juni 2019. Di https://www.mckinsey.com/industries/healthcare-systems-and-services/our-insights/promoting-an-overdue-digital-transformation-in-healthcare
  7. Gupta, 27 April 2019. “Customer Experience Digital transformation in health care: 5 areas of immediate growth” di https://www.visioncritical.com/blog/digital-transformation-health-care
  8. Reddy, 12 Agustus 2019. “Digital Transformation in Healthcare in 2019: 7 Key Trends” di https://www.digitalauthority.me/resources/state-of-digital-transformation-healthcare/
  9. Watson, 2019, “Predictive analytics in health care”, di https://www2.deloitte.com/us/en/insights/topics/analytics/predictive-analytics-health-care-value-risks.html
  10. Aboudi and Benhlima, 2018, “Big Data Management for Healthcare Systems: Architecture, Requirements, and Implementation”, di https://www.hindawi.com/journals/abi/2018/4059018/
  11. Djafar, 2019, “Hukum Perlindungan Data Pribadi di Indonesia: Lanskap, Urgensi dan Kebutuhan Pembaruan”, di http://law.ugm.ac.id/wp-content/uploads/sites/1043/2019/08/Hukum-Perlindungan-Data-Pribadi-di-Indonesia-Wahyudi-Djafar.pdf 
  12. Lee, 2017, “Knowledge Management Enablers and Process in Hospital Organizations”, di https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5402843/
  13. Michelson, 2019, “Key Considerations for Securing Your Digital Healthcare Cloud”, di https://www.idigitalhealth.com/news/key-considerations-securing-digital-healthcare-cloud
  14. Comstock, 2018, “Why healthcare data may be more secure with cloud computing”, di https://www.mobihealthnews.com/content/why-healthcare-data-may-be-more-secure-cloud-computing

*Disarikan dari berbagai sumber

 

Another Lost Stories :

 


Subscribe for FREE Monthly eDigest

* indicates required

Please Leave Your Comment ..