Seri Smart Hospital (4) : Tantangan Rumah Sakit Di Era Kesehatan 4.0 Dalam Mewujudkan Sistem Transformasi Digital

Executive Overview

Sektor kesehatan tidak dapat terlepas dari pengaruh kemajuan teknologi digital. Industri kesehatan perlu mempersiapkan diri dalam menuju era disrupsi kesehatan 4.0. Berbagai tantangan dan permasalahan khususnya dari segi big data, keamanan data, regulasi, dan sumber daya manusia tidak boleh menjadi penghambat dalam mewujudkan sistem transformasi digital yang berkualitas. Kebutuhan rumah sakit yang berhasil diidentifikasi beserta rekomendasi yang ditujukan kepada berbagai pihak atau stakeholders terkait, diharapkan dapat menjadi solusi efektif untuk membenahi berbagai tantangan yang ada sehingga pada akhirnya semua rumah sakit dapat siap sedia untuk berpartisipasi dalam memberikan layanan kesehatan paripurna di era disrupsi 4.0 ini.


Tantangan terhadap sistem transformasi digital di pelayanan kesehatan seringkali berasal dari aspek non-teknis. Menurut Harold F. Wolf, presiden dan CEO dari Healthcare Information and Management Systems Society (HIMSS), perubahan kultur kerja seringkali menjadi hambatan dalam pengembangan sistem tersebut. Banyak tantangan dari segi mindset atau pola pikir, struktur organisasi, dan tata kelola organisasi.6

Berikut ini dipaparkan beberapa kondisi penting yang dapat menjadi tantangan bagi penyelenggara kesehatan agar dapat mewujudkan sistem transformasi digital yang sukses di negaranya. Adapun kondisi atau tantangan yang perlu dihadapi antara lain:

  1. Peran pemerintah dalam mempromosikan sistem transformasi digital di pelayanan kesehatan
    Pemerintah baik dari level daerah, regional, maupun tingkat nasional dapat membantu mewujudkan keberhasilan sistem tersebut dengan melakukan promosi penggunaan teknologi di bidang kesehatan. Salah satunya adalah dengan inisiatif dan pembiayaan dari pemerintah untuk menciptakan suatu aplikasi berskala nasional yang dapat diakses secara gratis oleh semua pihak dan berintegrasi dengan data di daerah-daerah termasuk daerah terpencil. Keuntungan dari sistem berskala nasional ialah dapat menciptakan keseragaman sumber data agar dapat diolah dan dilakukan analisis prediktif yang sesuai.6
  2. Perlunya regulasi baru yang jelas dalam mengatur sistem transformasi digital.
    Regulasi penting diciptakan untuk melindungi keselamatan pasien dan meningkatkan produktivitas pelayanan kesehatan. Beberapa regulasi yang lama dan sudah tidak relevan sebaiknya digantikan dengan regulasi yang baru. Regulasi yang tidak jelas dapat berujung pada berbagai keraguan dalam mengadaptasi inovasi dan mengoptimalisasi teknologi yang ada.6
  3. Sistem pelayanan kesehatan perlu berfokus kepada kebutuhan pasien
    Ekpektasi konsumen atau pasien terhadap pelayanan kesehatan berbasis digital semakin meningkat. Pelayanan diharapkan mengutamakan kenyamanan dan kemudahan akses. Tantangannya adalah bagaimana industri terutama RS bisa tetap mengikuti perkembangan zaman dan mau mempelajari inovasi apa yang dibutuhkan oleh pasien dan masyarakat; tentunya dengan mengutamakan keuntungan bisnis.2,6
  4. Peningkatan manajemen pengetahuan sumber daya manusia
    Dokter atau penyedia layanan kesehatan perlu mengembangkan keterampilan dalam rangka mempercepat dan mempersiapkan proses transformasi digital tersebut. Sebagai contoh, diperlukannya pelatihan agar dokter dan perawat dapat mengakses rekam medis elektronik dan cara pengisiannya. Proses ini tentunya harus dibuat berkelanjutan dan memerlukan investasi waktu serta tenaga yang tidak sedikit.6 Beberapa tantangan dalam aspek ini adalah kurangnya antusiasme dalam belajar, tidak adanya kultur kerja yang kolaboratif, dan kurangnya waktu belajar.11
  5. Investasi jangka panjang dibutuhkan untuk kesuksesan pembangunan transformasi digital
    Penyedia layanan kesehatan perlu mempertimbangkan pengadaan investasi jangka panjang untuk mencapai tujuan jangka panjang organisasi. Anggaran yang sifatnya terdesentralisasi dalam organisasi dapat membuat iklim investasi menurun. Sebaliknya, organisasi yang menciptakan anggaran sentral dapat memberikan kesempatan investasi yang lebih. Namun demikian, masih banyak ditemukannya kesulitan finansial dari beberapa manajemen RS terutama dari RS swasta, dan jika memungkinkan dapat menggunakan aplikasi yang dikembangkan gratis oleh pemerintah pusat atau kementerian kesehatan.6
  6. Modernisasi sistem informasi teknologi (IT) dalam organisasi
    Pelayanan kesehatan perlu mengembangkan sistem IT antara lain dengan merekrut ahli yang mumpuni dan berpengalaman di bidangnya, memanfaatkan sistem komputasi awan dan perangkat lunak yang sesuai dengan kebutuhan organisasi, serta melakukan pengolahan dan analisa data untuk mendapatkan masukan guna meningkatkan kualitas layanan kesehatan yang ada.2
  7. Tantangan yang berkaitan dengan keamanan dan proteksi data, penyimpanan data serta kepatuhan sistem terhadap regulasi yang ada
    Beberapa poin penting yang berkaitan dengan tantangan dalam hal data antara lain:

    • Dengan menggunakan sistem rekam medis elektronik, data medis yang terkumpul akan semakin banyak dari sebelumnya dan tumbuh semakin cepat. Internet juga membantu proses sharing data agar dapat diakses oleh pelayanan kesehatan lain dan pemerintah pusat. Keuntungan ini menimbulkan permasalahan lain yaitu proteksi dan keamanan data pribadi. Jika tidak ditangani dengan benar, data elektronik beresiko untuk bocor ke pihak luar dan digunakan oleh pihak-pihak yang kurang bertanggung jawab. Dalam hal ini diperlukan sistem keamanan dan proteksi canggih untuk meminimalisasi resiko tersebut.9
    • Lokasi penyimpanan data juga menjadi salah satu poin penting yang patut diperhatikan. Dengan semakin banyaknya informasi medis yang bisa diperoleh dari pasien, maka diperlukan suatu sistem yang dapat menyimpan semua big data yang ada. Teknologi cloud atau sistem komputasi awan dapat menjadi salah satu opsi terhadap tantangan ini. Sistem cloud memampukan organisasi kesehatan agar dapat melakukan efisiensi biaya, memenuhi kebutuhan bisnis, sekaligus menjamin keamanan data pasien. Menurut informasi dari Markets and Markets, value pemakaian sistem cloud akan menyentuh $9.48 juta di tahun 2020, sedangkan Esticast memproyeksi bahwa pertumbuhan cloud akan mencapai 23,4% atau senilai $25.7 juta di tahun 2024.13
    • Ancaman terhadap serangan malware, computer virus, dan hacker juga semakin meningkat seiring dengan peningkatan teknologi digital. Banyak kerugian yang ditimbulkan dengan kejadian tersebut, seperti lumpuhnya sistem yang ada dan hilangnya akses ke email organisasi. Perbaikan bisa berlangsung berhari-hari atau dalam hitungan minggu dan semakin menimbulkan kerugian finansial.13 Dengan adanya sistem cloud, resiko ini dalam diminimalisasi karena proteksi terhadap serangan hacker di dunia maya dapat ditangani oleh penyedia jasa layanan cloud tersebut.14
    • Memastikan agar sistem cloud yang kita sewa juga patuh terhadap berbagai regulasi yang ada, misalnya regulasi HIPAA atau Health Insurance Portability and Accountability Act.14
Another Lost Stories :  Jenis Konten Apa Dan Kapan Waktu Terbaik Untuk Posting di Media Sosial?

Tantangan yang dipaparkan di atas bersifat umum dan dapat dihadapi oleh berbagai macam pelayaan kesehatan di negara manapun termasuk Indonesia. Adapun tantangan di era kesehatan 4.0 yang spesifik dihadapi oleh sistem kesehatan di Indonesia antara lain:5

  1. Kurangnya minat RS untuk berinvestasi di bidang digitalisasi
    Banyak pihak pengelola rumah sakit yang lebih fokus kepada ekspansi fasilitas dan masih memandang sebelah mata terhadap manfaat sistem transformasi digital. Hal ini dikarenakan kurangnya kompetisi atau persaingan terhadap sistem teknologi digital itu sendiri. Baru akhir-akhir ini setelah bermunculan sistem layanan kesehatan berbasis health-tech, banyak kekhawatiran timbul bahwa pertumbuhan health-tech company akan membuat kerugian di pihak RS yang berbasis pada pelayanan tradisional. Masih sedikit pula RS yang mengaplikasikan SIMRS (Sistem Informasi Manajemen RS) yang dirancang oleh Kemenkes. Dari data yang diunduh secara online melalui http://sirs.yankes.kemkes.go.id/fo/, masih ada sekitar 815 RS yang belum mengaplikasikan SIMRS, padahal sistem ini dapat digunakan secara gratis oleh RS.5
  2. Sulitnya integrasi data berskala nasional
    Dari lebih dari 2450 rumah sakit di seluruh Indonesia, sebagian besar masih dikelola secara independen dan belum mempunyai standarisasi dan akreditasi internasional. Masih banyak pula rumah sakit yang masih menjalankan sistem pengumpulan dan penyimpanan data secara tradisional. Hal ini menjadi tantangan bagi partner penyedia layanan teknologi digital untuk dapat melakukan integrasi data ke setiap rumah sakit di seluruh Indonesia. Pekerjaan ini akan menimbulkan biaya dan waktu yang sangat besar. Karena isu inilah, konsep data sharing antar RS dalam skala daerah maupun nasional juga menjadi tantangan tersendiri.5
  3. Teknologi IT yang outdated dan kurang terintegrasi
    Karena kurangnya standarisasi dokumentasi dan business process antar fasilitas kesehatan, implementasi sistem IT seringkali bekerja sendiri-sendiri (working in silos) dan kurang terintegrasi dengan sistem lainnya. Banyak juga rumah sakit yang terlanjur bergantung pada teknologi yang ketinggalan zaman (outdated) sehingga sulit diperbarui untuk memenuhi espektasi pasien yang ingin mengakses informasi secara cepat terutama melalui smartphone.5
  4. Kultur organisasi dan birokrasi serta tata kelola yang masih bersifat tradisional
    Seperti halnya industri lain, tantangan terbesar dari transformasi digital adalah kultur organisasi dan birokrasi yang menghambat dilakukannya perubahan menuju tata kelola yg lebih baik. Salah satu kesulitan terbesar adalah proses manajemen pengetahuan, edukasi dan implementasi yang membutuhkan komitmen dari dewan direksi sampai dengan staf/karyawan, termasuk penyedia jasa pelayanan seperti dokter dan perawat. Hal ini membutuhkan strategi perubahan manajemen yang tepat dan secara berkala harus terus menerus dievaluasi.5
  5. Regulasi atau aturan dari pemerintah belum ditetapkan dan seringkali mengalami perubahan
    Industri kesehatan adalah salah satu industri yang sangat bergantung terhadap regulasi pemerintah (highly regulated). Namun pemerintah butuh mengejar ketertinggalan dalam menciptakan ketentuan hukum yang dapat mengakomodir inovasi di bidang teknologi kesehatan dan memberikan kepastian pada para pelaku untuk dapat melindungi penggunanya. Pada saat ini, untuk hal yang sangat dasar seperti tata kelola data medis pasien masih membutuhkan aturan yang lebih detil seperti sampai sejauh mana peran rumah sakit dan pemerintah dalam mengelola data medis termasuk apa hak dan kewajiban dari pasien untuk dapat secara mudah mengakses, mengunduh, menyimpan, dan mengirimkan pada pihak yang berkepentingan.5
  6. Belum ada kejelasan mengenai hukum perlindungan data pribadi
    Peraturan mengenai perlindungan data pribadi yang komprehensif belum disertai dengan kesadaran publik untuk melindungi data pribadi mereka sendiri. Oleh karena itu, dibutuhkan pendekatan yang bersifat instrumental dan struktural, diantaranya membentuk hukum perlindungan data pribadi baik data yang dikumpulkan dari pemerintah maupun data dari pihak swasta, seperti misalnya perusahaan health-tech yang berbasis informasi dan komunikasi. Selain belum adanya peraturan UU, masalah rendahnya pemahaman perusahaan mengenai konsep privasi dan perlindungan data konsumen juga masih ditemukan. Dengan adanya komitmen percepatan proses pembahasan RUU Perlindungan Data Pribadi oleh Menteri Komunikasi dan Informatika, diharapkan dapat segera menjadi solusi proteksi data untuk konsumen/ pasien.11
Another Lost Stories :  Seri Content Marketing Tools : EMAIL MARKETING TOOLS 2017

Seri Smart Hospital :

  1. Kesiapan Rumah Sakit Menghadapi Era Digitalisasi Menuju Smart Hospital 4.0
  2. Tren dan Manfaat Sistem Transformasi Digital menuju Era Kesehatan 4.0
  3. Keuntungan Analisis Big Data, Pelaporan, Data Mining dan Manajemen Pengetahuan Pada Sektor Kesehatan, Khususnya Rumah Sakit
  4. Tantangan Rumah Sakit Di Era Kesehatan 4.0 Dalam Mewujudkan Sistem Transformasi Digital
  5. Kebutuhan Rumah Sakit dalam Menjawab Tantangan Dan Permasalahan Era Kesehatan 4.0, Terutama Dari Aspek Data
  6. Rekomendasi Terhadap Stakeholders Terkait Untuk Menjawab Tantangan Era Kesehatan 4.0

Referensi

  1. Newman, 2019, “Top 6 Digital Transformation Trends In Healthcare For 2019”, di https://www.forbes.com/sites/danielnewman/2019/01/03/top-6-digital-transformation-trends-in-healthcare-for-2019/#7c7c0af36911
  2. Chilukuri and Kuiken, 2017, “Four keys to successful digital transformations in healthcare”, di https://www.mckinsey.com/business-functions/mckinsey-digital/our-insights/four-keys-to-successful-digital-transformations-in-healthcare
  3. Adella, April 2019, “Digitalisasi Pelayanan Kesehatan dengan Penerapan Revolusi Industri 4.0” di https://aptika.kominfo.go.id/2019/04/digitalisasi-pelayanan-kesehatan-dengan-penerapan-revolusi-industri-4-0/
  4. Kleyman, 2017, “Utilizing People, Process, and Technology in Health Data Security”, di https://healthitsecurity.com/news/utilizing-people-process-and-technology-in-health-data-security
  5. “Lima Tantangan Transformasi Digital Pelayanan Kesehatan di Indonesia”, 26 Maret 2019 di https://medigo.id/jurnal/lima-tantangan-transformasi-digital-pelayanan-kesehatan-di-indonesia
  6. Gareth L. Jones, Zinaida Peter, Kristin-Anne Rutter, and Adam Somauroo, Juni 2019. Di https://www.mckinsey.com/industries/healthcare-systems-and-services/our-insights/promoting-an-overdue-digital-transformation-in-healthcare
  7. Gupta, 27 April 2019. “Customer Experience Digital transformation in health care: 5 areas of immediate growth” di https://www.visioncritical.com/blog/digital-transformation-health-care
  8. Reddy, 12 Agustus 2019. “Digital Transformation in Healthcare in 2019: 7 Key Trends” di https://www.digitalauthority.me/resources/state-of-digital-transformation-healthcare/
  9. Watson, 2019, “Predictive analytics in health care”, di https://www2.deloitte.com/us/en/insights/topics/analytics/predictive-analytics-health-care-value-risks.html
  10. Aboudi and Benhlima, 2018, “Big Data Management for Healthcare Systems: Architecture, Requirements, and Implementation”, di https://www.hindawi.com/journals/abi/2018/4059018/
  11. Djafar, 2019, “Hukum Perlindungan Data Pribadi di Indonesia: Lanskap, Urgensi dan Kebutuhan Pembaruan”, di http://law.ugm.ac.id/wp-content/uploads/sites/1043/2019/08/Hukum-Perlindungan-Data-Pribadi-di-Indonesia-Wahyudi-Djafar.pdf 
  12. Lee, 2017, “Knowledge Management Enablers and Process in Hospital Organizations”, di https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5402843/
  13. Michelson, 2019, “Key Considerations for Securing Your Digital Healthcare Cloud”, di https://www.idigitalhealth.com/news/key-considerations-securing-digital-healthcare-cloud
  14. Comstock, 2018, “Why healthcare data may be more secure with cloud computing”, di https://www.mobihealthnews.com/content/why-healthcare-data-may-be-more-secure-cloud-computing

*Disarikan dari berbagai sumber

 

Another Lost Stories :

 


Subscribe for FREE Monthly eDigest

* indicates required

Please Leave Your Comment ..

Banner IDwebhost