Potensi Desa Di Pasar Teknologi Digital Indonesia

Baik disadari atau tidak, saat ini teknologi tidak dapat terlepas dari kehidupan kita sehari-hari. Contoh paling dekat adalah penggunaan smartphone untuk memudahkan hidup kita. Hal ini merupakan bukti bahwa teknologi telah masuk dalam berbagai bidang kehidupan kita salah satunya adalah bisnis.

Sampai 2020 kini, perkembangan teknologi semakin maju dan pesat saja. Ditambah lagi semakin banyak orang yang tertarik menggunakan teknologi. Hal ini semakin jelas dengan merebaknya industri startup yang menandakan bahwa potensi Desa di pasar teknologi di Indonesia sangatlah besar, contohnya adalah Desalogi Cyber Media yang telah meluncurkan 2 produk startup, yaitu (1) Situs Berita di www.desalogi.id dan (2) Situs Direktori Desa Wisata di www.desalogi.com.

Di sisi lain, ekonomi digital di Indonesia juga sedang berkembang saat ini. Dimana saat ini Indonesia dianggap memiliki potensi tinggi sebagai pasar online terbesar di Asia Tenggara. Ini dapat dibilang merupakan peluang emas untuk Desa dimana para pelaku usaha UMKM bernaung baik atas nama pribadi, perusahaan maupun melalui BUMDES (Badan Usaha Milik Desa) untuk mulai melakukan bisnis dan mengembangkan akses pasarnya dengan memanfaatkan teknologi digital yang kekinian di masa kini.

Fenomena ini didukung oleh data BPS tahun 2016 yang menandakan bahwa pertumbuhan bisnis digital di Indonesia dalam kurun waktu 10 tahun terakhir tumbuh sekitar 17% dengan total sekitar 26,2 juta pengusaha daring. Bahkan Data Social Research and Monitoring (DSRM) menunjukan indikasi bahwa transaksi online mencapai 4,89 Miliar Dollar AS dari total 8,7 online shopper. Bahkan, pertumbuhan sektor teknologi saat ini berada di nomor dua terbesar setelah produk domestik bruto.

Dikutip dari situs wearesocial.com, data Indonesia dalam “Digital 2020 Global Overview Report” tampak cukup signifikan mewarnai persaingan dunia digital dunia. Beberapa kali Indonesia muncul dalam peringkat yang tinggi untuk hal-hal tertentu.

Sampai di tahun 2020 ini, penetrasi internet di Indonesia masih berada di angka 64% dengan total pengakses kira-kira sebesar 174 juta orang. Angka 174 juta orang pengakses internet menempatkan Indonesia berada di peringkat tiga dengan pertumbuhan populasi yang mengakses internet sebesar 17% dalam satu tahun terakhir. Angka ini sama dengan 25,3 juta pengakses internet baru dalam setahun. Dan pertumbuhan populasi pengakses internet Indonesia ini hanya kalah dari Cina dan India. 

Dari 64% penduduk Indonesia yang sudah mengakses internet, berapa durasi rata-rata mereka mengakses? Jawabannya adalah selama 7 jam 59 menit, hampir 8 jam!

Data ini tentu saja mencengangkan karena itu artinya pengguna di Indonesia sudah menggunakan internet selama hampir setengah waktu sadarnya (16 jam sehari) untuk mengakses internet. Tentu ini konsumsi yang sangat besar dan mungkin mengkhawatirkan bagi sebagian besar pengamat kesehatan.
Dibandingkan dengan negara-negara lain, Indonesia menempati peringkat delapan dunia dengan waktu akses terlama. Di peringkat pertama adalah Filipina yakni selama 9 jam 45 menit. Sementara rata-rata dunia “hanya” 6 jam 43 menit dan ternyata kebanyakan negara maju dunia seperti Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, dan Australia menghabiskan rata-rata akses internet lebih sedikit dibandingkan rata-rata dunia.

Terlintas pertanyaan, “adakah korelasi antara produktifitas ekonomi dengan lama waktu akses internet?”.

Saya mengira (seharusnya) ada korelasinya, namun sangat disayangkan “Digital 2020 Global Overview Report” tidak mengungkap hal ini.

Another Lost Stories :  Hak Dan Kewajiban Pasien

Satu kondisi yang harus diakui bahwa Indonesia tidak melalui tahap yang pada umumnya dilalui oleh negara maju lainnya yang masih harus merasakan kartu kredit dan televisi kabel namun langsung melompat ke adaptasi ponsel pintar, sehingga ponsel yang memiliki koneksi internet menjadi hal yang mendasar harus dimiliki. Tidak heran Indonesia dapat menempati peringkat kelima dunia dalam hal pengakses terlama internet melalui ponsel. Dan durasinya cukup tinggi, yakni rata-rata 4 jam 46 menit untuk mengakses internet setiap harinya.

Setelah mengetahui berapa lama orang Indonesia menghabiskan waktu di ponselnya, kita mulai dapat melihat bagaimana perilaku pengguna internet di Indonesia saat mengakses sosial media. Hampir 80% penggunaan internet di ponsel digunakan untuk sosial media dengan durasi penggunaan internet di ponsel yang mencapai 4 jam 46 menit, ternyata 3 jam 46 menit digunakan untuk sosial media. Data ini mengejutkan kalau benar-benar menggambarkan perilaku bersosial media di Indonesia. Karena ternyata masyarakat Indonesia memang menaruh perhatian yang tinggi terhadap sosial media.

Tidak mengherankan jika data-data selanjutnya terkait sosial media Indonesia secara konsisten menempati tempat yang tinggi di peringkat dunia. Bayangkan, penetrasi sosial media sendiri sudah mencapai 59% atau lebih dari separuh populasi pengguna internet di Indonesia. Angka ini tumbuh sebesar 8,1% dibandingkan dengan tahun lalu.

Jumlah tersebut setara dengan 12 juta pengguna sosial media baru dalam satu tahun. Hal ini menempatkan Indonesia sebagai peringkat ketiga dunia dalam pertumbuhan penggunaan sosial media setelah Cina dan India. Masing-masing mencapai 15 juta dan 130 juta pertumbuhan pengguna dalam satu tahun.

Lalu bagaimana dengan data pengguna internet Indonesia pelaku jual beli online yang ternyata menempati tertinggi di dunia?

Di Indonesia toko daring (online) ada begitu banyak bentuk dan wujudnya. Berbagai rupa toko daring tersebut tergolongkan dalam bisnis E-commerce (Electronic Commerce). Menariknya, Indonesia dalam data ini adalah negara dengan adopsi (penggunaan) e-commerce terbesar di dunia. Angkanya mencapai 88% dari seluruh pengguna internet yang ada di Indonesia.

Data “Digital 2020 Global Overview Report” menjelaskan bahwa angka ini menunjukkan setidaknya ada 8 orang dari 10 orang pengguna internet yang dalam satu bulan membeli produk atau jasa secara online paling tidak satu kali. 88% adalah angka untuk adopsi E-commerce secara keseluruhan. Bagaimana dengan transaksi melalui ponselnya? Lagi-lagi Indonesia menempati peringkat pertama. Meski angkanya agak menurun dari tahun sebelumnya menjadi 80%.

Fakta ini jelas mencengangkan. Indonesia dapat begitu tinggi mengadopsi jual beli online meskipun teknologi internet sebenarnya masih begitu asing untuk masyarakat Indonesia pada umumnya. Secara posisi Indonesia unggul dibandingkan dengan negara-negara yang sudah lebih maju terkait jual beli daring seperti Amerika Serikat atau Cina.

Data yang disajikan oleh “Digital 2020 Global Overview Report” tentang Indonesia memang tidak sedetil laporan tahun-tahun sebelumnya. Indonesia tidak mendapat profiling yang mencukupi untuk menggambarkan bagaimana perkembangan digital. Namun posisi Indonesia yang cukup dominan secara global membuat Indonesia cukup sering tampil dan mendapat sorotan.

Perilaku pengguna internet Indonesia terhadap teknologi telepon seluler misalnya yang ternyata sangat dominan. Ini sangat berbeda dari negara-negara maju lainnya yang umumnya masih banyak menggunakan komputer untuk mengakses internet. Hal ini akhirnya berdampak pada bagaimana pengguna internet di Indonesia dalam hal bertransaksi dan menggunakan aplikasi-aplikasi telepon seluler/mobile. Secara bisnis tentu saja Indonesia dapat dikatakan menjadi negara yang memiliki potensi besar untuk ekonomi digital terutama di segmen telepon seluler/mobile.

Another Lost Stories :  Kisah Divestasi Saham Freeport Indonesia : Jilid 2 | #simalakama2

Tren ini tentu saja harus dapat dimanfaatkan dengan baik jika tidak ingin kehilangan momentum untuk menjaring potensi penetrasi internet yang lebih luas mengingat penetrasi internet di Indonesia masih berada di level 60%. Artinya masih ada 30% lebih penduduk yang dapat dijaring dan menjadi pengakses internet baru yang akan menjadi target pasar baru. Dan tentu saja kecil kemungkinannya para pengguna baru itu mengakses internet melalui komputer sebab ponsel pintar adalah opsi yang lebih praktis dan mudah.

Hal ini seharusnya dapat menjadi sesuatu yang membanggakan jika potensi ekonomi digital Indonesia ini dapat dimanfaatkan oleh Desa sebagai bagian dari para pelaku bisnis dan start-up dari dalam negeri sehingga memberikan dampak yang berarti di level domestik. Tidak hanya dampak ekonomi tetapi juga dampak sosial yang memang lebih dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia.

Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara pernah menyampaikan dalam pidatonya di acara ICT Summit yang bertempat di JI Expo Kemayoran, Jakarta, pada bulan Agustus 2016 31 (dikutip melalui Kompas) bahwa “hal Itu membuat komunikasi media tumbuhnya nomor dua setelah keuangan dan perbankan,”. Rudiantara juga menuturkan, total secara keseluruhan, pertumbuhan bisnis di sektor itu telah mencapai angka 8% hingga sekitar 2 miliar dollar AS.

Secara lebih rinci, pertumbuhan di sektor komunikasi berada pada kisaran angka Rp 170 triliun sampai Rp 180 triliun. Di sisi lain, sektor penyiaran berada di kisaran angka Rp 80 triliun. “Kita belum pernah mencapai 8%. Itulah bisnis yang menggiurkan sebetulnya yang ada di Indonesia,” ujarnya pada saat itu.

Bagaimana dengan data terkait Desa di Indonesia dalam lingkup teknologi informasi dan komunikasi (TIK)?

Berdasarkan data dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes), tercatat sebanyak 75 ribu Desa di Indonesia. Sayangnya, dari jumlah itu belum seluruhnya melek TIK. Menurut Septriana Tangkary, Direktur Pemberdayaan Industri Informatika, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) di tahun 2015 lalu, “memang belum seluruh Desa terkoneksi. Untuk saat ini baru 60% dari total jumlah Desa yang terkoneksi dengan TIK”.

Berdasarkan data Potensi Desa Badan Pusat Statistik tahun 2018 masih ada sekitar 62% Desa yang tidak tersedia BTS (Base Transceiver Station). Dari sisi kekuatan sinyal telepon seluler dan sinyal internet, masih banyak Desa-Desa yang kekuatan signalnya lemah dan bahkan tidak ada, yakni 34% untuk sinyal telepon dan 21,6% untuk sinyal internet. Hal ini menjadi tantangan tersendiri dalam membentuk Desa yang melek dan mampu masuk ke dalam arena pasar teknologi digital Indonesia.

Tantangan lainnya untuk mewujudkan Desa yang siap bersaing di ranah digital ini adalah memerlukan dukungan pendanaan yang cukup besar. Saat ini, Desa digital merupakan hasil kerjasama antara pemerintah daerah dengan pemerintah pusat melalui BAKTI Kominfo dan juga pihak-pihak lainnya. BAKTI Kominfo bertugas menyediakan akses internet dengan menggunakan dana USO (Universal Service Obligation) bagi Desa yang mengajukan usulan melalui pemerintah daerah untuk menjadi Desa digital. Sedangkan perangkat dan aplikasi disediakan oleh pemerintah daerah dengan mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Penyediaan perangkat dan aplikasi ini membutuhkan dana yang relatif besar. Di sisi lain, masih banyak daerah-daerah (khususnya kabupaten) yang kapasitas keuangannya rendah dan masih sangat bergantung pada dana perimbangan dari pemerintah pusat. Guna meminimalkan dana sementara dapat dibentuk pusat digital di Desa yang dapat diakses oleh semua masyarakat sehingga dapat dikontrol penggunaannya.

Another Lost Stories :  Indonesian Diplomat Impresses Public After UN General Assembly Appearance

Tantangan berikutnya adalah ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang mampu mengelola berbagai layanan berbasis teknologi informasi. Tidak bisa dipungkiri bahwa di tingkat Desa masih terdapat aparat dan masyarakat Desa yang belum melek internet dan teknologi. Penetrasi pengguna internet tahun 2017 berdasarkan kota/kabupaten terkonsentrasi di area rural sebesar 48,25% (APJII, 2017).

Untuk penguasaan komputer, rilis BPS dalam Indeks Pembangunan Teknologi Informasi dan Komunikasi (IP-TIK) menunjukan bahwa nilai indeks%tase rumah tangga di Indonesia yang menguasai komputer hanya bernilai 2 dari skala 0-10. Hasil survei dan IP-TIK BPS ini dapat dijadikan parameter yang menunjukkan bahwa melek internet dan teknologi di pedesaan masih relatif rendah.

Selain itu, masyarakat Desa masih memegang budaya yang kuat yang mungkin dapat menjadi penghambat dalam masuknya sesuatu yang baru dari luar seperti internet. Adanya konten- konten negatif dari akses internet juga menjadi tantangan tersendiri dalam pengadaan Desa digital. Dengan demikian maka dibutuhkan sosialisasi, pendampingan, dan literasi digital terhadap SDM dan masyarakat
Desa yang disesuaikan dengan karakteristik dan budaya masyarakat. Saat ini telah ada pendampingan dari relawan TIK terhadap Desa digital namun jumlahnya terbatas sehingga diperlukan keterlibatan pihak lain dalam pendampingan dan literasi digital.

Lalu apa yang dapat Desa lakukan untuk siap masuk ke dalam hitungan potensi pasar teknologi digital di Indonesia?

Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk dapat terjun dan siap bersaing dalam pengembangan sektor teknologi dan informasi:

  1. Cerdas Berteknologi
    Tidak “gagap teknologi”, hal ini penting. Karena tidak hanya hal-hal positif dan juga berkembangnya teknologi untuk memudahkan, seringkali harus bijak dan cerdas menggunakannya atau dapat berakibat tidak baik seperti adanya cyber crime, kemudian menjadi objek kriminalitas seksual dan banyak hal lainnya.
  2. Segera GO Online
    Hal ini berlaku untuk semua industry. Baik itu pemerintahan, komunitas, paling penting Desa serta UMKM untuk segera terjun GO Online sebelum terlambat. Karen bila terlambat, akan sulit untuk mengejar ketertinggalan itu.
  3. Semangat Belajar
    Poin ketiga ini merupakan yang paling penting. Banyak media di internet yang dapat memberikan materi dan pembelajaran terbaru untuk anda yang dapat dibuka kapan dan dimana pun. Apalagi kini persaingan kita tidak hanya terjadi di Indonesia saja melainkan juga persaingan skill dan potensi yang kita punya berikut dengan negara lain, apalagi dengan adanya Pasar Bebas ASEAN.

Oleh karena itu, kita tidak akan pernah menjadi orang yang tertinggal, jika tidak akan semakin tertinggal. Dan setelah melihat adanya potensi pasar teknologi dan informasi di ranah dunia digital, apakah Desa anda sudah siap terjun ke industri teknologi digital Indonesia yang sedang “cantik, menggiurkan dan panas” saat ini?

 

Another Lost Stories :

 


Subscribe for FREE Monthly eDigest

* indicates required

Please Leave Your Comment ..

Banner IDwebhost