Lost To Pariaman, West Sumatera : Undangan Pesta Adat Batagak Gala Penghulu, Bagian 1

Lost To Pariaman, West Sumatera : Undangan Pesta Adat Batagak Gala Penghulu, Bagian 1

2 bulan yang lalu saya diberitahu oleh istri bahwa kami mendapat undangan untuk menghadiri upacara adat pengangkatan penghulu di kampung mertua, tepatnya di Tandikat, Kabupaten Pariaman, Sumatera Barat dan sangat diharapkan untuk hadir mengingat dalam tradisi adat Sumatera Barat terutama di suku istri, kami adalah bagian utama dari keluarga yang akan diangkat menjadi penghulu alias ya kami lah yang memiliki hajat ini yang konon katanya merupakan hajat besar.

Saya pun segera mencari informasi di internet tentang upacara adat ini, dan dari semua yang saya dapat, saya berkesimpulan upacara adat ini lebih tepat merupakan pesta adat atau pesta rakyat. Terus terang menjadi besar rasa penasaran saya dan menambah besar rasa bingung saya karena acara utamanya jatuh pada hari kerja, yaitu di hari Selasa. Galau berat, hahahaha …

Setelah mendapat ijin dari atasan di kantor, maka saya bersama istri merencanakan keberangkatan dengan membawa 2 dari 5 anak tercinta kami, Ay Kusumadewa dan Kay Kusumadewa, dengan pertimbangan biaya serta kedudukan anak kami secara adat, Ay Kusumadewa, yang (katanya lagi) akan mewarisi jabatan ini di kemudian hari nanti.

 

Senin, 31 Juli 2017

Hari keberangkatan pun tiba, dan dinihari kami sudah berada di bandar udara internasional Soekarno Hatta karena kami memilih jadwal penerbangan pertama ke Padang agar anak-anak dapat menikmati perjalanan dengan santai sebelum menuju ke kampung. Oh ya, nama kampung yang dituju adalah Mudik Balai Tandikat atau dalam bahasa setempat dibaca Mudiak Balai Tandikek.

Tiba di bandar udara internasional Minangkabau, Padang, Sumatera Barat sekitar pukul 9 pagi dan segera kami mencari sarapan. Setelah sarapan baru kami belanja keperluan anak-anak di kota ini, dan supir yang akan mengantar kami membawa ke Transmart, yang menurutnya terlengkap di kota Padang ini dan yang terbaru.

Setelah lengkap perbekalan perang anak-anak, kami pun segera menuju Desa Mudiak Balai Tandikek yang memakan waktu sekitar 45 menit dari kota Padang.

Tepat jam makan siang, kami tiba di Desa Mudiak balai Tandikek, namun kami tidak menuju ke rumah mertua saya karena kabar dari mertua, rumah kosong karena semua berkumpul di rumah yang menyelenggarakan hajatan tersebut, lokasinya tidak jauh, berada di belakang rumah mertua, namun jalannya harus memutar melewati pasar Tandikek, pasar tradisional setempat. dan lokasi hajatan pun sebetulnya cukup terkenal pada tahun 2009 yang lalu, yaitu saat gempa Padang yang mengakibatkan longsor besar yang menimbun 3 Desa serta seluruh penduduknya.

Sesampainya disana, ternyata durian Tandikek telah menunggu, jadi itulah sasaran utama saya selain makan rendang asli Padang, hahahaha.

Setelah makan siang, kami menuju rumah mertua untuk beristirahat sekaligus persiapan acara malam malam dan acara esok hari yang ternyata saya baru mengetahui bahwa acara ini berlangsung selama 14 hari dan esok adalah hari ke-3 dan merupakan acara utamanya. Wuiihhh .. ternyata benar-benar besar dan meriah sekali ternyata acara ini dalam pikiran saya.

Makan malam yang disajikan secara adat terasa sangat kental hubungan kekeluargaannya, yaitu duduk bersama di lantai dan seluruh makanan disajikan seperti layaknya rumah makan padang, namun kejutan adalah makanan spesial untuk saya, yaitu rendang daging kerbau yang masih mengepul asapnya karena baru diangkat dari kuali serta sup tulang kerbau yang sangat besar dengan sumsum yang masih menumpuk di dalamnya, yummyyyyy …..

Selesai makan, sebentar berbincang-bincang dan kami pun pulang dengan perut yang kekenyangan.

 

Another Lost Stories :  Flickr Agrees To Be Acquired By SmugMug - What This Means For You | Email From Flickr

Post Series Batagak Gala Penghulu Cultural Feast Trip :

 

Another Lost Stories :

 


Subscribe for FREE Monthly eDigest

* indicates required

Please Leave Your Comment ..

Banner IDwebhost