Lost To Pariaman, West Sumatera : Undangan Pesta Adat Batagak Gala Penghulu, Bagian 3

Lost To Pariaman, West Sumatera : Undangan Pesta Adat Batagak Gala Penghulu, Bagian 3

Rabu, 2 Agustus 2017

bersama para tetua & nini mamak sebelum pamit kembali ke Padang & kemudian ke Jakarta

Setelah kemarin mengikuti acara utama dari upacara adat Batagak Gala Penghulu, hari ini kami beranjak ke kota Padang dan berencana menginap semalam sebelum kembali ke Jakarta.

Jam 9 pagi, kami meninggalkan kampung menuju kota Padang dengan rute yang memutar, yaitu pertama menuju kota Bukittinggi lalu ke Padang Panjang dan baru kami ke kota Padang. Niatnya adalah mengenalkan daerah di sekitar kota Padang kepada Ay & Kay.

Kami menuju Bukittinggi melalui jalur Malala, jalan baru sebagai alternatif menuju Bukittinggi dari Padang yang kebetulan melewati rumah mertua kami.

Di tengah perjalanan kami sempat berhenti untuk istirahat sekaligus menikmati pemandangan kota (entah apa nama kotanya) dari puncak bukit di jalur Malala ini yang juga merupakan jalur dari perlombaan balap sepeda internasional Tour de Singkarak, dan tiba di Bukittinggi sekitar jam 11.30 siang.

istri bersama Ay di puncak bukit Malala

Tujuan pertama adalah warung nasi kapau di Pasar Atas. Ya, isi perut dulu sebelum menjelajah trademark kota Bukittinggi, dan nasi kapau adalah makanan khas daerah Bukittinggi.

Selepas makan dan berjalan-jalan di Pasar Atas, kami menuju Jam Gadang. Monumen yang dikenal sebagai saudara kembar Big Ben di London, Inggris. Ay & Kay bermain-main di pelataran Jam Gadang sambil berfoto-foto. Setelah mereka puas, sekitar jam 14 kami beranjak ke Padang Panjang atau yang juga dikenal dengan sebutan Egypt Van Andalas untuk menikmati sate Mak Sukur.

Ternyata di dekat sate Mak Sukur terdapat tujuan wisata baru, yaitu di wilayah Silaing Bawah milik keluarga pak Bustanil Arifin, seorang menteri pada masa orde baru yang dikelola oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Padang Panjang. dan sudah pasti kami pun mampir kesana.

Bagi teman-teman yang memiliki minat terhadap kebudayaan Indonesia, khususnya budaya Minang, maka inilah pusat informasi serta budaya Minang. Bahkan disini teman-teman wanita dapat berfoto dengan menggunakan pakaian adat Minang sebagaimana layaknya seorang putri Minang.

Tujuan berikutnya dalam perjalanan menuju kota Padang adalah Lembah Anai yang terkenal dengan air terjun yang indah dan berada tepat di sisi jalan menuju Padang.

Sekitar jam 16 kami menuju Padang dan kami menuju pusat es durian di wilayah Pecinan kota Padang, yaitu Ganti Nan Lamo yang dalam bahasa Indonesia berarti “pengganti yang lama”. Tidak tahu juga asal muasal nama itu karena para pelayannya pun tidak tahu saat saya tanya.

Es durian sudah masuk perut, saatnya menuju hotel Grand Inna Muara Padang, hotel yang telah kami booking sebelumnya untuk menginap di kota Padang. Untuk mengetahui review saya tentang hotel Grand Inna Muara di kota Padang ini dapat dibaca disini.

Setelah kami check in, Ay & Kay ingin langsung berenang, dan saya pun mengantar mereka ke kolam renang sementara istri saya istirahat dan merapihkan isi koper agar ada ruang untuk diisi buah tangan. Biasa lah ibu-ibu   😉  hahahahaha ..

Dan satu hari ini kami menuruti keinginan anak-anak untuk tetap di hotel.

 

Another Lost Stories :  Mengenang 5 Tahun Wafatnya Dani Fadil Asidik - Tragedi Bulu Kasok, IOX 2012

Post Series Batagak Gala Penghulu Cultural Feast Trip :

 

Another Lost Stories :

 


Subscribe for FREE Monthly eDigest

* indicates required

Please Leave Your Comment ..