Etika Dan Budaya Akademik

Sejatinya, pendidikan tidak hanya bertujuan untuk mengembangkan keilmuan, tetapi juga membentuk kepribadian, kemandirian, keterampilan sosial, dan karakter (Zuchdi, 2010).

Lembaga pendidikan tinggi dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan, sudah selayaknya memiliki komitmen untuk melaksanakan dan mengawal pembentukan karakter bangsa. Pengembangan budaya akademik menjadi titik temu antara upaya pembinaan karakter dengan peningkatan kualitas sebagai hasil dari proses pendidikan tinggi. Karakter merupakan bagian integral dari budaya akademik,mengingat karakter diperlukan dan berpotensi dikembangkan dari setiap aktivitas akademik.

Perguruan tinggi (Universitas), pada dasarnya merupakan ladang tempat lahirnya kader-kader intelektual. Sehingga disinilah nilai-nilai positif seperti jujur, cerdas, peduli, tangguh, tanggung jawab, religius dan nilai positif lainnya bisa ditanamkan, terinternalisasi, dan menjadi sebuah budaya dalam upaya membangun tradisi intelektual. Sementara yang lain, lebih mengartikan kampus sebagai tempat untuk beradu fashion, sebagai tempat trendi-trendian, sebagai tempat tebar pesona dan bermain cinta masa muda, dengan kesibukan untuk kian menegaskan gaya hidup baru yang dibentuk oleh modernisasi. Tidak heran jika banyak mahasiswa hanya datang ke kampus, duduk dan diam mendengarkan penjelasan dari dosen kemudian pulang. Mereka lebih nyaman berlama-lama hang-out di mall, menikmati indahnya dunia masa muda dengan semakin menyuburkan sikap hedonis dan konsumtif dalam jiwa mereka.

Another Lost Stories :  The Real Leadership Lessons of Steve Jobs - Part 2 : in Memoriam

Lalu, inikah yang disebut “Mahasiswa” yang  tidak lain adalah golongan tertinggi dari kaum pelajar. Melihat fakta di lapangan, mungkinkah mahasiswa adalah sosok kaum muda berintelektual yang menghalalkan segala cara untuk hanya mencapai tujuan-tujuan akademik (nilai/ijasah), atau yang menggunakan suara dan pergerakannya dengan apatis dan anarkis, atau yang muda yang hanya berpusat pada kehidupan hedonis dan konsumtif, layaknya cerita-cerita dalam sinetron.

Nyatanya, Itu hanyalah sebagian cermin dari tumpukan cermin-cermin retak yang memantulkan permasalahan bangsa kita terkait dunia kampus dan mahasiswa. Dari masa ke masa, kian beraneka karakter mahasiswa menghiasi bahkan bisa dikatakan mendominasi dinamika pergaulan dunia kampus. Kampus di era kekinian, tak ubahnya sebagai pusat kebobrokan moral, elitism, antikerakyatan, dan lahan bisnis ala dunia pendidikan. Dunia kampus pun kini telah menjadi korban dari intervensi budaya luar yang penuh kepentingan kapitalistik. Menjadikan mahasiswa lupa bahwa kampus adalah tempat yang memang dimaksudkan untuk kegiatan akademis dan non-akademis.

Dilihat secara logika, bagaimana bisa mengharapkan adanya output yang berkompeten dan berkarakter jika di lingkungan pendidikan tersebut seolah tidak pernah memberikan mainstream untuk itu. Padahal, jika budaya akademik kampus yang positif mampu diterapkan dengan maksimal, akan mampu mendorong tumbuhnya iklim sosial dan interaksi yang sehat antar civitas akademika. Serta mampu menggali potensi diri para mahasiswa, dan mampu membentuk mereka tidak hanya dari oleh pikir, tapi juga dari olah hati, olah raga, dan olah rasa/karsa.

Another Lost Stories :  Manusia Sebagai Makhluk Yang Berbudaya

Atas dasar itulah, bagaimana sinergi etika serta budaya akademik, bagaimana sebuah budaya akademik tercipta dan berjalan di sebuah perguruan tinggi, khususnya perguruan tinggi yang sudah memproklamirkan dirinya sebagai Perguruan Tinggi dengan nilai-nilai pendidikan karakter melalui motto barunya yang bertajuk “Growing with Character”. Tentu, motto tersebut mengandung motivasi yang kuat untuk melakukan perubahan dan perbaikan diri yang mengarah kepada terjadinya peningkatan mutu. Baik secara kualitas intelektual, ataupun dari segi karakter mahasiswa yang dihasilkan.

 

 

Another Lost Stories :

 


Subscribe for FREE Monthly eDigest

* indicates required

Please Leave Your Comment ..