Disrupsi Dunia Kesehatan

Membaca laporan riset yang berjudul “The Well Economy: APAC Edition” yang dilansir November 2018 dalam website intelligence.wundermanthompson.com, terdapat fakta-fakta yang menarik untuk dicermati. Riset ini berdasarkan hasil wawancara para ahli dan 2.500 data konsumen di Tiongkok, Jepang, Thailand, Indonesia serta Australia, dimana hasil wawancara dan data-data tersebut dirangkum kemudian diolah untuk melihat bagaimana sesungguhnya keyakinan dan perilaku konsumen di Asia Pasifik, khususnya terkait kesehatan.

Riset tersebut mengidentifikasi tren dan peluang brand di seluruh Asia. Baik di sektor perawatan kesehatan modern seperti rumah sakit, klinik, asuransi, farmasi, maupun pemain baru di ekosistem yang sedang berkembang di berbagai bidang, misalnya pengobatan tradisional, teknologi kesehatan, makanan, kecantikan, perhotelan, ritel, tempat kerja, dan pariwisata medis.

Terdapat tren makro yang muncul dari riset ini. Ternyata kehadiran Alibaba, Tencent, hingga perusahaan teknologi rintisan lokal, telah mendisrupsi ekosistem sektor medis di Asia Pasifik. Mereka mendisrupsi melalui tiga cara.

Pertama, melalui platform/aplikasi. Kemunculan beragam platform/aplikasi memungkinkan orang untuk mengatasi masalah kesehatan yang sebelumnya dianggap tabu, seperti kesehatan mental dan seksual.

Kedua, menjadi “mak comblang” baru di dunia medis dan kesehatan. Sebanyak 66% responden mengatakan, mereka akan lebih sering ke dokter jika waktu menunggu konsultasi tidak terlalu lama. Kondisi ini mendorong perusahaan teknologi melahirkan layanan konsultasi langsung antara pasien dan dokter.

Another Lost Stories :  Lima Etnik dan Budaya Indonesia Untuk Menyembuhkan Penyakit

Ketiga, disrupsi terhadap asuransi. Hasil survei menunjukkan, hanya 51% responden yang percaya terhadap asuransi kesehatan pemerintah. Kemudian hanya 46% yang yakin kepada asuransi swasta. Di sisi lain, perusahaan teknologi terbukti mampu menjawab kerumitan yang muncul dari proses transaksi asuransi tradisional.

Tren makro lainnya adalah ekosistem kesehatan dan kebugaran yang meluas telah menawarkan peluang bagi semua orang, termasuk para pemain baru. Kondisi ini tentu saja mengganggu kelangsungan sektor kesehatan yang telah berjalan lama seperti klinik, puskesmas, rumah sakit, penyedia farmasi, dan asuransi.

Pada sisi akses kesehatan, saya sepakat dengan pernyataan Chen May Yee, penulis laporan dan juga Direktur The Innovation Group Asia Pasifik di JWT Intelligence. Dengan munculnya para pemain baru, khususnya perusahaan teknologi yang melakukan disrupsi terhadap dunia medis dengan mengeksploitasi ketidak-efisienan, sektor tradisional harus menerima perubahan ini, atau berisiko tertinggal dan tidak mungkin mengejar ketertinggalan itu.

Dengan berkaca dari tren yang sedang berkembang saat ini, saya melihat Indonesia dengan 260 juta sekian jumlah penduduknya telah berevolusi sedemikian rupa dalam sektor kesehatan dan kesejahteraan. Masyarakat Indonesia memiliki harapan yang lebih tinggi pada akses kesehatan. Namun evolusi dunia bisnis kesehatan semisal rumah sakit sangat lambat dalam mengantisipasi kecepatan atas kemajuan teknologi digitalisasi hanya karena faktor biaya meskipun sumber daya manusianya mumpuni yang disebabkan oleh egoisitas dalam memandang perubahan.

Another Lost Stories :  Dewan Pengawas Rumah Sakit, Pro & Kontra Pembentukannya

Pada saat yang sama, kepercayaan terhadap fasilitas kesehatan di negeri ini masih rendah. Ada kebutuhan untuk meningkatkan fasilitas dan komunikasi kesehatan. Kebutuhan ini bisa dipenuhi melalui banyak inisiatif dan keberanian atas niat untuk berubah.

Saya percaya laporan riset ini dapat kita gunakan sebagai titik awal untuk membuat strategi yang lebih baik di dunia kesehatan Indonesia.

Silahkan untuk mengunduh “The Well Economy: APAC Edition” di bawah ini dan semoga bermanfaat ..

 

 

Another Lost Stories :

 


Subscribe for FREE Monthly eDigest

* indicates required

Please Leave Your Comment ..

Banner IDwebhost