Bercermin Dari Kegagalan InaTEWS Dalam Tragedi Tsunami Palu 2018

Bercermin Dari Kegagalan InaTEWS Dalam Tragedi Tsunami Palu 2018

Gempa bumi dengan magnitudo 7,5 di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah yang disusul dengan tsunami pada Jumat pekan lalu, pada saat tulisan ini ditulis telah menyebabkan korban tewas setidaknya 1.424 jiwa, 99 orang hilang, 799 orang terluka, dan lebih dari 60 ribu jiwa telah mengungsi yang tersebar di hampir 150 titik.

Setelah investasi teknologi ratusan miliar rupiah pasca Tsunami Aceh 2004 yang menghasilkan sistem peringatan dini tsunami di Indonesia, InaTEWS, hari ini kembali dipertanyakan efektivitasnya dalam mencegah jatuhnya korban jiwa.

InaTEWS (Indonesia Tsunami Early Warning Sistem) yang diklaim komprehensif secara konseptual, ternyata belum mampu memberikan layanan yang memadai ketika dihadapkan pada tragedi gempa Palu.

Hingga saat ini di Pusat Operasional BMKG telah terpasang beberapa fasilitas pengolahan sistem seismik dari Jerman, China, Jepang (NIED), Perancis. Sistem operasional untuk InaTEWS adalah Sistem Jerman SeiscomP, dimana prosessing real time otomatisnya telah menunjukan kerja yang bagus dan memberikan hasil yang memuaskan walaupun masih perlu dikembangkan. Sistem menjadi lebih handal karena ada fasilitas untuk penentuan oleh petugas secara interaktif online. Sistem tersebut telah ditingkatkan sehingga mampu untuk menghitung magnitude gempabumi yang sebanding dengan magnitude moment yang cocok untuk warning tsunami. *Sumber : inatews.bmkg.go.id

Harga yang dibayar cukup mahal karena begitu banyak kematian akibat ketidakmampuan mengevakuasi diri. Hampir sebagian besar korban tsunami tidak mendapatkan informasi evakuasi paska gempa dari pemerintah. Bayangkan, bahwa saat itu tidak ada sirine peringatan yang berbunyi dan pada saat yang bersamaan, masyarakat belum memiliki gerakan refleks evakuasi mandiri ke tempat yang lebih tinggi begitu terjadi gempa.

Another Lost Stories :  Orthopaedic Trauma and the Evolution of Healthcare Policy

Masalah kesiapsiagaan masyarakat terhadap tsunami dan gempa bumi bukan sekadar masalah teknologi melainkan juga masalah sosial budaya dan ekonomi politik yang perlu diselesaikan secara memadai, terus-menerus, dan detail.

 

The Petobo neighbourhood in Palu pictured on August 17, 2018 and after the earthquake and tsunami on October 1 | Image Source: DigitalGlobe via AP

 

 

Another Lost Stories :

 


Subscribe for FREE Monthly eDigest

* indicates required

Please Leave Your Appreciation