Ancaman Mutasi Coronavirus

Sebagai virus jenis baru, masih banyak sifat dari SARS-CoV-2 yang jadi misteri. Berbagai penelitian anyar terus muncul mengungkap sifat dan konon jenis obat penawarnya. Beberapa obat secara terbatas memberi efek positif melawan COVID-19, tapi di sisi lain ancaman mutasi Coronavirus juga turut mengintai.

Sejak Desember 2019, menurut Worldometers tercatat 198 negara di dunia saat tulisan ini dibuat, berperang bersama melawan pandemi COVID-19. WHO melaporkan situasi terkini terdapat 190 negara terdampak wabah, dengan jumlah kasus terkonfirmasi lebih 294 ribu, dan tingkat kematian mencapai 12,9 ribu jiwa.

Ancaman infeksi SARS-CoV-2 sangat nyata. Virus ini memang tak semematikan virus SARS atau MERS tapi dia mampu menyebar lebih cepat dibanding kedua jenis virus korona tersebut, sehingga sangat mudah menebar teror kepada siapapun. Orang yang tidak memiliki gejala pun dapat menginfeksi orang lain tanpa sadar.

Bahkan penelitian terbaru yang dilansir oleh The Lancet menyebut virus COVID-19 mampu bertahan di saluran pernapasan sampai 37 hari. Kesimpulan tersebut didapat dari analisis 191 pasien di Rumah Sakit Jinyintan dan Rumah Sakit Paru-paru Wuhan pada 31 Januari 2020. Dari sampel tersebut diketahui bahwa rata-rata durasi pelepasan virus mencapai 20 hari.

Namun sejumlah sampel kecil pada tiga pasien menunjukkan sisa virus pada saluran pernapasan setelah 37 hari. Artinya pasien yang dikarantina atau lolos karantina 14 hari tetap dapat berpotensi menularkan virus COVID-19. Masih terkait transmisi tanpa disadari, penelitian lain ikut mengungkap cara mengidentifikasi para pembawa virus tanpa gejala.

Dikutip dan diterjemahkan dari Business Insider, Nirmal Kumar dari Lembaga Rhinologi Inggris, Clare Hopkins mengatakan, “di Korea Selatan, 30 persen pasien positif mengalami anosmia”.

Anosmia adalah kondisi ketika seseorang tiba-tiba kehilangan respon dari indra penciuman. Orang dengan kondisi anosmia sangat berisiko menjadi pembawa virus yang tidak terdeteksi. Apalagi infeksi pada orang-orang ini dapat dikatakan ringan dan tidak memiliki gejala. Pasca ditemukannya sifat baru dari infeksi SARS-CoV-2, orang dengan gejala tersebut harus diisolasi mandiri, setidaknya selama tujuh hari.

Another Lost Stories :  Surat Cinta Di Malam Idul Fitri

Kemudian fakta terbaru selanjutnya adalah soal media penyebaran virus. Jika sebelumnya WHO mengonfirmasi bahwa COVID-19 menyebar melalui percikan (droplet) dan menempel kuat pada permukaan kasar seperti kayu, kain, dan kulit, maka studi yang terbit di New England Journal of Medicine menambahkan kriteria lain. Virus COVID-19 dapat bertahan di udara.

“SARS-CoV-2 dapat mengudara selam tiga jam pada udara yang tenang,” demikian ditulis dalam penelitian tersebut.

Ukuran virus COVID-19 sangat kecil, yakni sekitar 1-5 mikrometer, setara lebar rambut manusia dipilah jadi 30 bagian. Karakteristik barunya menyebut virus korona dapat melayang di udara pada kondisi tertentu, yakni suhu dan kelembapan rendah. Namun, menurut WHO, hanya tim medis yang berisiko mendapat penularan lewat mekanisme ini.

Ketika melakukan tindakan medis aerosol (zat yang menggantung di udara) seperti ventilasi dan nebulizer, maka virus akan mendapat kekuatan tambahan untuk hidup di udara. Kemudian penularan dapat terjadi lewat penumpukan aerosol di baju hazmat, atau alat pelindung diri lainnya.

 

Obat Penawar COVID-19

Setelah dulu di Indonesia sempat ramai kabar rimpang-rimpangan seperti jahe, temulawak, dan kunyit dapat menyembuhkan COVID-19. Presiden Joko Widodo berinisiatif untuk memesan obat Klorokuin dan Avigan masing-masing sebanyak dua juta dan tiga juta butir untuk penanganan wabah. Namun keputusan ini dipertanyakan beberapa pihak.

Another Lost Stories :  Menolak Relaksasi PSBB

Masalahnya, Presiden Jokowi dianggap tidak fokus pada pencegahan, tapi jor-joran di tingkat pengobatan yang bahkan belum disepakati secara global. Kedua obat itu baru diujikan secara terbatas dan ternyata memberikan efek mutasi virus. Klorokuin memang telah disetujui secara medis sejak tahun 1955, namun untuk pengobatan malaria, lupus, dan rheumatoid arthritis.

Dalam penelitian aslinya, disebutkan Klorokuin punya potensi kuat sebagai profilaksis (pencegahan). Hasil dari uji coba pada pasien COVID-19 di sepuluh rumah sakit di Beijing, obat ini mampu membantu penurunan demam dan mencegah kerusakan paru-paru.

“Klorokuin efektif dalam mencegah infeksi SARS-CoV-2 dalam kultur sel ketika ditambahkan 24 jam sebelum infeksi,” ungkap studi yang di-published pada Virology Journal (2005).

Pemberian Klorokuin 3-5 jam pasca-infeksi berfungsi sebagai penghambat infeksi. Sementara Avigan, obat yang dikembangkan oleh anak perusahaan Fujifilm, yakni Fujifilm Toyama Chemical, lazim digunakan untuk mengobati influenza. Sebagai penawar SARS-CoV-2, Avigan telah melewati uji klinis di Wuhan dan Shenzhen dengan melibatkan 340 pasien.

Para dokter di Jepang ikut menggunakan obat tersebut dalam studi klinis pasien COVID-19. Diberitakan oleh The Guardian, uji klinis hanya menunjukkan efek berarti pada pasien dengan gejala ringan hingga sedang. Avigan bekerja dengan cara mencegah virus berkembang biak, sehingga tidak efektif ketika diberikan pada orang dengan gejala berat.

“Kami memberi Avigan kepada 70-80 orang, tetapi tampaknya tidak berfungsi baik ketika virus sudah berlipat ganda,” ungkap Kementerian Kesehatan Jepang yang dilansir oleh The Guardian.

 

Mutasi Virus

Klorokuin dan Avigan sama-sama bekerja dengan merusak kualitas replikasi RNA dari SARS-CoV-2 menjadi tidak stabil, sehingga menghambat infeksi. Tapi masalahnya di saat bersamaan ketika kualitas replikasi virus RNA tidak stabil, maka virus berisiko bermutasi menjadi lebih agresif.

Another Lost Stories :  Indonesia? TERSERAH!!

Studi terbatas pada klorokuin menyertakan risiko mutasi virus di masa depan. Mutasi virus dapat saja membuat virus kebal terhadap obat yang sama. Di kemudian hari jika terdapat wabah infeksi lain maka orang yang pernah terpapar obat ini berisiko kebal obat. Akibatnya ia harus menggunakan dosis obat yang lebih tinggi dengan harga yang lebih mahal.

Efek lain klorokuin secara jangka panjang dapat membikin kerusakan retina. Ahli Farmakologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Zullies Ikawati menambahkan, kerusakan pada mata akan membuat penglihatan menjadi buram. Pasien pengguna obat ini seperti penderita lupus atau autoimun misalnya, mereka harus memeriksakan fungsi mata dan jantung secara berkala.

“Pada jantung denyutnya jadi tidak stabil. Jadi efek samping cukup banyak terutama kalau dipakai dalam jangka waktu lama dan dosis tinggi,” menurut Zullies Ikawati yang dilansir oleh Tirto.id.

Apalagi sejak kabar Klorokuin dan Avigan tersiar, dikhawatirkan masyarakat mengonsumsi obat secara sembarang. Terbukti persediaan Klorokuin dan Avigan langsung kosong di pasaran karena masyarakat Indonesia memborong obat-obat tersebut di apotek.

Meski semua kebijakan terkait COVID-19 ada di tangan pemerintah, termasuk penggunaan Klorokuin dan Avigan, perlu juga diperhitungkan ancaman mutasi virus di masa mendatang. Jika saat itu tiba, Indonesia dapat menghadapi kewalahan yang sama seperti sekarang.

*disarikan dari berbagai sumber

 

Another Lost Stories :

 


Subscribe for FREE Monthly eDigest

* indicates required

Please Leave Your Comment ..