bastamanography.id

just another lost stories from another lost journey

Sudahkah Indonesia Sehat? ~ Refleksi Visi Indonesia Sehat 2010

MEDICINE
POLITIC
REVIEW
SOCIAL
SOCIOPOLITICA

Beberapa hari yang lalu, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mencanangkan program Gerakan Masyarakat Sehat (GERMAS) yang merupakan gerakan nasional atas prakarsa Presiden Republik Indonesia sebagai bagian dari program Indonesia Sehat 2019. Dan seiring itu pun timbul pertanyaan, “sudahkah Indonesia sehat, berdasarkan visi Indonesia Sehat? Pertanyaan reflektif ini juga yang akan menuntun kita untuk masuk di dalam pokok permasalahan yakni apa saja kiat-kiat dan upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah untuk mencapai target visi Indonesia Sehat 2015 kemarin dan menuju tahun 2019 (rencana pembangunan jangka pendek) dan 2025 (rencana pembangunan jangka panjang) nanti? Dan apa saja faktor penghambat yang mempengaruhi setiap upaya yang dilakukan?

Visi Indonesia Sehat berawal di tahun 2010 yang dicanangkan tepatnya di tahun 1999 pada era pemerintahan Presiden B.J. Habibie, pada hakikatnya merupakan satu visi yang mulia, karena pemerintah Indonesia bertekad untuk menciptakan masyarakat Indonesia yang sehat jasmani dan rohani atau dengan kata lain, waktu sepuluh tahun (dihitung sejak tahun 1999) merupakan waktu yang dialokasikan oleh pemerintah Indonesia untuk memikirkan upaya-upaya strategis untuk mencapai visi Indonesia sehat 2010 dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia yang setinggi-tingginya.

Meski demikian, sepengetahuan saya pada awal pencanangan visi Indonesia Sehat 2010 belum dirumuskan indikator-indikator yang jelas mengenai target dan tujuan apa yang hendak dicapai dalam program ini. Pemerintah hanya memiliki satu keyakinan yang dituangkan dalam program ini adalah bahwa pada tahun 2010 nanti masyarakat Indonesia sudah hidup di dalam lingkungan yang sehat dan berperilaku hidup sehat. Menyadari “kelemahan” ini, barulah di tahun 2003, pemerintah Indonesia melalui Departemen Kesehatan merumuskan  dan menetapkan indikator-indikator yang dijadikan standar untuk mencapai visi Indonesia Sehat 2010. Melalui upaya perumusan indikator yang ketat, akhirnya dirumuskanlah 50 (lima puluh) indikator pencapaian target. Di mana salah satu indikatornya adalah penurunan angka kematian ibu dan anak di Indonesia.

Semua orang ingin hidup sehat, bahkan kesehatan merupakan aset paling berharga dalam hidup di dunia ini. Kesehatan juga merupakan hak asasi setiap individu. Ungkapan “health is not everything but without health everything is nothing” rasanya tepat untuk menggambarkan betapa pentingnya kesehatan itu. Namun ironisnya, semua orang ingin hidup sehat, namun ada juga banyak orang yang tidak mau menjaga kesehatannya. Kesehatan memang bukan segala-galanya, namun tanpa kesehatan segalanya tak berarti. Bagaimana seseorang dapat beraktivitas dengan baik jika ia sakit atau tidak sehat? Akan tetapi, sebuah pertanyaan bagi kita, bagaimana sih konsep sehat itu? Atau dengan kata lain apa yang dimaksudkan dengan sehat itu? Apakah hanya sekedar berarti tubuh yang tidak sakit?

World Health Organization (WHO) memberikan definisi sehat sebagai “a state of completely physical, mental, and social well being and  not merly the absent of disease or infirmity”Menurut Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009, kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Sedangkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, mendefinisikan sehat adalah keadaan baik segenap badan serta bagian-bagiannya (bebas dari sakit); waras.

Melihat pengertian sehat di atas, maka tentulah visi Indonesia Sehat merujuk atau mengacu pada pengertian ini. Lalu jika demikian, sekali lagi tentu kita semua akan bertanya, sudahkah Indonesia sehat sesuai dengan target yang dipasang oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia melalui visi Indonesia Sehat di setiap  5 tahun masa pemerintahan?

Hemat saya, saat ini visi Indonesia Sehat belum bisa dikatakan telah tercapai dan hal ini dapat dilihat dari timbulnya berbagai permasalahan kesehatan dan indikator-indikator yang mengalami perubahan sedikit sekali, bahkan telah dipengaruhi pula oleh unsur politik. Jika ingin dijabarkan, hal disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:

  1. Visi Indonesia Sehat masih sebatas visi Kementerian Kesehatan saja (belum ada upaya-upaya konkrit yang optimal dalam kerja sama lintas sektoral dan lintas kementerian serta lembaga untuk mencapai target visi Indonesia Sehat). Jika pun ada kerja sama, itu baru bersifat parsial/sebagian saja.
  2. Kondisi sosial ekonomi dan tingkat pendidikan atas Sumber Daya Manusia masyarakat Indonesia yang variatif juga merupakan salah satu faktor penghambat.
  3. Keanekaragaman budaya adat istiadat masyarakat Indonesia juga merupakan faktor eksternal yang turut berpengaruh di dalam pencapaian target visi Indonesia Sehat.
  4. Belum adanya perubahan paradigma/pola pikir/cara pandang dari paradigma sakit ke paradigma sehat dalam masyarakat kita, khususnya di kalangan pemerintah sendiri sebagai pengambil dan penentu kebijakan di negara ini mulai dari tingkat nasional hingga regional/daerah-daerah. Hemat saya, faktor ke empat inilah yang paling dominan di dalam mempengaruhi pencapaian target Indonesia sehat.
  5. Buruknya pelaksanaan tatanan Sistem Kesehatan Nasional, Sistem Jaminan Sosial Nasional, hingga Sistem Pendidikan para tenaga kesehatan dan pula tata kelola pendistribuan tenaga kesehatan yang menambah carut marutnya pelaksanaan pembangunan kesehatan di negara kita.

Hal-hal di atas sangat berkaitan dengan paradigma pembangunan bidang kesehatan di negara kita. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, definisi kata Paradigma adalah “kerangka berpikir”. Stephen R. Covey dalam bukunya “The Seven Habits of Highly Effective People” mendefinisikan “paradigma” sebagai berikut, “The word Paradigm comes from the Greek. It was originally a scientific term. And is more  commonly used to day to mean a model, theory, concept, perception, orientation, assumption or frame of reference. In the general sense, is the way “see” the world, not interm of our visual sense of sight, but in term of perceiving, understanding and interpreting”.

Yang dimaksud dengan Paradigma Sakit adalah cara pandang atau kerangka berpikir dalam upaya pembangunan kesehatan yang berorientasi pada upaya kuratif (pengobatan) dan rehabilitatif (pemulihan kesehatan). Penanganan kesehatan masyarakat dalam paradigma sakit ini lebih diutamakan pada pelayanan Rumah Sakit serta Balai Pengobatan, penanganan pasien secara individual. Dalam Paradigma Sakit, yang dilakukan adalah mengobati orang sakit atau orang sakit baru diobati dan bukannya mencegah orang supaya tidak sakit. Bukankah paradigma/kerangka berpikir/cara pandang seperti ini masih melekat kuat dalam pemahaman masyarakat kita? Bahkan di dalam pemahaman para pengambil/penentu kebijakan pun masih terdapat paradigma/kerangka berpikir/cara pandang seperti ini.

Sedangkan yang dimaksud dengan Paradigma Sehat adalah cara pandang dalam upaya pembangunan kesehatan yang berorientasi atau dititikberatkan pada upaya preventif (pencegahan) dan promotif (promosi kesehatan). Adagium kuno “lebih baik mencegah daripada mengobati” merupakan “roh” dari Paradigma Sehat ini.

apa yang sudah kita buat untuk mewujudkan visi Indonesia Sehat?

Paradigma Sehat ini sendiri mulai diperkenalkan pada era menteri kesehatan Prof. DR. Dr. F.A. Moeloek, SpOG berdasarkan rapat kerja Komisi VI DPR RI tanggal 15 September 1998. Artinya upaya perubahan paradigma  ini sendiri telah dimulai sejak tahun 1998, sebelum dihembuskannya visi Indonesia Sehat pada tahun 1999, yang mana pada dasarnya Paradigma Sehat ini merupakan landasan pijak dari visi Indonesia Sehat 2010 itu sendiri. Namun apakah Paradigma Sehat ini telah diimplementasikan dalam pembangunan kesehatan di Indonesia? Dan mengapa perlu adanya perubahan paradigma/cara pandang dari Paradigma Sakit menjadi Paradigma Sehat?

Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa karena Paradigma Sakit yang lebih berorientasi pada upaya kuratif & rehabilitatif lebih cenderung “high cost”. Dengan kata lain, upaya pengobatan (kuratif rehabilitatif) itu lebih memiliki resiko yang tinggi dibandingkan dengan Paradigma Sehat yang lebih menekankan upaya promotif dan preventif. Bandingkanlah berapa besar biaya yang harus dikeluarkan untuk mengobati seorang yang sakit dibandingkan dengan berapa besar biaya yang dikeluarkan untuk mencegah orang itu agar tidak sakit. Lebih sulit mengobati daripada mencegah. Karena itu betapa pentingnya terjadi perubahan Paradigma Sakit menjadi Paradigma Sehat.

Berikut beberapa faktor yang dapat dirumuskan dari pentingnya perubahan paradigm ini :

  • Adanya perubahan dalam konsep sehat, dimana pengertian sehat termasuk di dalamnya unsur sehat produktif, sosial dan ekonomis.
  • Pelayanan kesehatan yang berfokus pada pelayanan orang sakit (kuratif) tidak efektif.
  • Adanya transisi demografi (meningkatnya manusia lanjut usia yang membutuhkan penanggulangan spesifik.
  • Terjadinya transisi epidemiologi dari penyakit infeksi ke penyakit kronik degeneratif.

Pembangunan kesehatan yang berorientasi pada upaya kuratif rehabilitatif pada dasarnya merupakan “health program for survival” sedangkan pembangunan kesehatan dengan upaya upaya preventif promotif itu merupakan “health program for human development”.

Melihat pengertian Paradigma Sehat diatas, lalu bagaimana relevansinya dengan visi Indonesia Sehat? Dan sebagai tolak ukur deskripsi, saya akan mengambil contoh relevansi dengan visi Indonesia Sehat 2010 yang merupakan awal mula kebijakan ini.

Berbicara tentang Indonesia Sehat 2010, maka indikator yang paling jelas terlihat adalah apakah sudah terjadi perubahan paradigma secara menyeluruh dalam masyarakat dan pemerintah Indonesia atau belum?

Kenyataannya, masih banyak masyarakat Indonesia yang belum mengubah paradigma atau cara pandangnya, bahkan pemerintah Indonesia sebagai subyek pembangunan itu sendiri belum memiliki paradigma sehat ini secara menyeluruh. Ironisnya lagi, masih banyak kalangan dalam lingkup Kementerian Kesehatan sendiri sebagai motor penggerak visi Indonesia Sehat 2010, belum memiliki paradigma atau pola pikir atau cara pandang paradigma sehat. Jika demikian quo vadis visi Indonesia Sehat 2010? Sementara itu harapan yang ingin dicapai dari visi Indonesia Sehat 2010 adalah supaya masyarakat Indonesia dapat hidup dalam lingkungan yang sehat serta berperilaku hidup sehat. Lebih dari itu adalah masyarakat dapat terlayani dengan pelayanan kesehatan yang bermutu, adil dan merata.

Memang harus diakui bahwa untuk mencapai sebuah visi seperti Indonesia Sehat 2010 bukanlah pekerjaan mudah. Namun itu tidak berarti bahwa visi itu tidak akan tercapai? Kita sudah melewati tahun 2010, berarti sebenarnya sesuai visi Indonesia Sehat, semestinya saat ini Indonesia sudah boleh dikatakan sehat. Tetapi apakah kenyataannya demikian? Masih ada segudang masalah kesehatan di Indonesia yang belum terselesaikan dengan baik.

Peningkatan kasus HIV/AIDS di berbagai daerah, kasus gizi buruk yang masih saja terjadi, masih tingginya angka kematian ibu dan anak (meskipun sudah ada program revolusi KIA), merebaknya virus H1N1 di berbagai penjuru tanah air, masih tingginya kejadian penyakit berbasis lingkungan (ISPA, diare, malaria, DBD, dan lain-lainnya), bahkan hingga gagalnya capaian target MDGs di tahun 2015 lalu. Semuanya ini adalah fakta yang tak dapat dipungkiri. Itu berarti masih terlalu banyak “pekerjaan rumah” yang harus ditanggulangi oleh pemerintah kita untuk mencapai visi Indonesia Sehat. Tahun 2010 memang telah lewat namun sayangnya, saya yakin bahwa visi Indonesia Sehat 2010 belum bisa diwujudkan di tahun 2010, mengingat keterbatasan dana dan upaya merubah paradigma masyarakat bukanlah sesuatu yang mudah.

Pemerintah mungkin saja merevisi kembali visi ini menjadi Indonesia Sehat 2025 atau 2035 tetapi satu hal yang mutlak dilakukan oleh pemerintah adalah mulailah perubahan paradigma itu dari diri sendiri. Artinya semua unsur pemerintah sudah semestinya memiliki pemahaman dan Paradigma Sehat, sehingga setiap kebijakan publik yang diambil bisa dititikberatkan pada upaya promotif dan preventif yang merupakan orientasi dari Paradigma Sehat itu sendiri.

Dukungan pemerintah dalam bentuk alokasi anggaran pun perlu dilakukan secara seimbang. Menilik di tahun 2010, lokasi anggaran kesehatan di Indonesia tergolong rendah. Alokasi anggaran kesehatan setiap tahun hanya berkisar 2,3% dari total APBN, padahal World Health Organization (WHO) telah menganjurkan pada semua Negara agar mengalokasikan anggaran kesehatan sebesar minimal 5% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Sebagai contoh, APBN tahun 2009 yang totalnya Rp 1.037,1 triliun, Kementerian Kesehatan memperoleh kuota sebesar Rp 20,3 triliun atau 2,8% dari total APBN 2009. Karena itu, dukungan pemerintah pusat melalui APBN dan Pemerintah Daerah melalui APBD mesti diwujudkan jika pemerintah benar-benar berkeinginan kuat untuk mencapai visi Indonesia Sehat.

Pertanyaannya,

“sudahkah pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah memberi dukungan dengan cara perimbangan alokasi anggaran untuk upaya kesehatan secara preventif promotif dengan besaran anggaran untuk upaya kesehatan secara kuratif rehabilitatif?”

“berapa anggaran yang dialokasikan untuk upaya promosi kesehatan serta pencegahan penyakit jika dibandingkan dengan besaran anggaran yang dialokasikan untuk pengadaan obat-obatan dan alat kesehatan?”

Jika besaran alokasi anggaran untuk upaya preventif promotif belum lebih besar atau minimal berimbang dengan besaran alokasi anggaran untuk upaya kuratif rehabilitatif, maka itu hanya menunjukkan bahwa pemerintah kita belum sepenuhnya memiliki paradigma sehat dan belum optimal di dalam upaya pencapaian visi Indonesia Sehat. Seyogyanya upaya mencapai Indonesia yang sehat itu harus dimulai dari pemerintah sebagai subyek pembangunan dan didukung sepenuhnya oleh masyarakat sebagai obyek pembangunan. Jika tidak ada dukungan semua pihak (pemerintah, swasta dan masyarakat), maka semua upaya atau visi sebaik apapun yang dicanangkan tidak akan bisa diwujudkan.

 

Semoga di tahun 2017 yang akan datang, pemerintah Indonesia mulai dari level pusat hingga daerah bisa sejenak berefleksi “apa yang sudah kita buat untuk mewujudkan visi Indonesia Sehat?” Haruskah visi yang mulia ini harus tenggelam seiring bergulirnya waktu atau kita semua mau bangkit dan merevisi kembali visi ini sehingga apa yang dicita-citakan oleh pemerintah dan masyarakat Indonesia ini dapat diwujudkan dalam perjalanan waktu ke depan yang masih menanti kita?

Leave Your Appreciation ..