bastamanography.id

just another lost stories from another lost journey

Islam Erotis

SOCIAL
SOCIOPOLITICA

Di tengah keriuhan dan tensi yang mulai meninggi menjelang Pemilihan Kepala Daerah Jakarta, rasanya kita perlu rileks sejenak menikmati anekdot lucu, segar, dan menyegarkan tentang cinta dan erotika yang disuguhkan oleh Isbahani. Membaca karya monumental ulama abad ke-10 itu, Kitab al-Aghani (Buku Musik), kita dibawa menelusuri dunia paradoksal, minimal, dalam imajinasi kita yang hidup di abad ke-21.

Berbicara tentang ulama-ulama Abad Pertengahan di Timur Tengah, segera terbayang seorang bersorban dengan jenggot lebat memutih dan tasbih mengalir di jarinya. Mengobral janji surga dan ancaman neraka, mengharamkan ini dan itu. Mungkin kita perlu merombak pikiran primitif itu manakala kita baca Kitab al-Aghani. Isbahani telah menunjukkan kepada kita, Islam lebih terbuka terhadap seks dan hal-hal yang terkait dengan seksualitas ketimbang kaum Muslim.

Kitab al-Aghani bukan hanya merekam, mengilustrasikan, dan memandu lirik-lirik lagu syahdu nan romantis, tapi juga menceritakan kisah-kisah asmara dan adegan bercumbu yang aduhai. Betapa terbukanya Isbahani mempublikkan beragam kisah yang sekarang cukup dinikmati di ruang privat sehingga gambar orang pakai baju renang pun perlu diblur.

Ibnu Khaldun memberikan kesaksian penting tentang Kitab al-Aghani yang sebagian kisah erotisnya akan dikutip di sini. “Sepanjang yang saya tahu,” ujar sejarawan Muslim kesohor itu, “tak ada karya yang bisa diletakkan selevel dengan buku ini.”

Cinta dan Erotika

Berbeda dengan kesan umum bahwa perempuan pada Abad Pertengahan di dunia Arab Timur-Tengah terseklusi, Isbahani memberikan potret berbeda. Salah seorang perempuan bertalenta yang sering disebut dalam buku itu ialah Arib (w. 890), seorang penyanyi terkenal yang keluar-masuk Istana Khilafah Abbasiyah menghibur para petinggi negara. Arib juga dikenal sebagai pencipta lagu yang prolifik hingga mencapai 1.625 judul.

Dia juga berparas cantik dan punya hubungan asmara dengan banyak laki-laki. Arib sendiri mengaku pernah tidur dengan delapan pajabat negara.

Suatu saat Abu al-Ubais menjenguknya. “Jangan buru-buru pergi,” kata Arib, “kita nikmati masakan yang akan kuhidangkan, dan setelah itu aku akan bernyanyi buatmu.”

“Oke, dengan satu syarat, ya!” kata Ubais.

“Apa itu?”

Ubais menjawab, “Ada-lah. Tapi saya selalu merasa malu menanyakannya padamu.”

“Aku tahu apa yang ada dalam pikiranmu,” Arib menimpali. “Kamu ingin tanya tentang ciri laki-laki yang paling aku suka bercinta, kan?”

“Wow, kamu memang cerdas!”

“Demi Allah, aku akan jujur padamu,” kata Arib. “Begini. Ciri laki-laki yang aku suka ialah punya penis keras (dzakar min al-hadid) dan bau badannya yang sedap. Seandainya dia juga tampan dan perhatian, itu namanya nilai plus. Tapi, yang penting, dua syarat pertama itu harus.”

Di antara para Khalifah Umayyah, Walid bin Yazid (w. 744) adalah yang paling banyak muncul dalam Kitab al-Aghani. Hal itu mudah dimengerti karena kehidupan Walid memang dikenal penuh hiburan dan foya-foya. Sering mabuk. Dia kurang peduli pada politik. Dan akhirnya, kebiasaannya itu merenggut nyawanya.

Konon, yang paling disukainya ialah kombinasi tiga hal berikut: minuman anggur putih, wanita cantik, dan rintik hujan di pagi hari.

Isbahani mengisahkan begitu detail posisi seks yang menjadi kesukaan para khalifah, penyair, dan artis, dari missionary, doggy style hingga teknik-teknik memerawani gadis. Jika Kitab al-Aghani ditulis di Indonesia saat ini, saya yakin Majelis Ulama Indonesia akan melarang peredarannya dengan fatwa.

Bacalah kisah Asya Hadaman (w. 702), seorang mujahid pada masa pemerintahan Umayyah. Ketika melakukan ekspedisi militer di bawah komando Hajjaj bin Yusuf (w. 714), dia ditangkap pihak lawan. Selama menjadi tawanan perang, Asya berhasil merayu putri orang yang menawannya. Disebutkan, Asya dan pujaan hatinya tiap malam bercinta delapan hingga sepuluh kali.

Suatu pagi, dia ditanya oleh sang putri: “Apakah kalian orang-orang Arab bercinta seperti itu dengan istri-istri kalian?” Asya mengangguk.

“Oh, itu sebabnya kenapa kalian selalu menjadi penakluk dalam peperangan.”

Sang putri pun membantu membebaskannya.

Seks dan Syari’ah

Di mana aturan-aturan syari’ah dalam banyak kisah cinta dan erotika yang dituturkan Isbahani? Bagaimana situasi di negara-negara Arab saat ini dibandingkan Abad Pertengahan ketika Islam belum dianggap terkontaminasi oleh kolonialisme dan ide-ide Barat soal kebebasan?

Tentu saja kita tak perlu membayangkan peradaban Islam Abad Pertengahan bersifat permisif. Sudah pasti apa yang dilakukan Arib, Walid bin Yazid, dan Asya Hamadan tidak dibenarkan oleh para ulama. Tapi, barangkali, para ulama zaman itu membatasi apa yang dapat dan tidak dapat dilakukan.

Yang cukup menakjubkan dari tradisi diskursif para ulama zaman pertengahan ialah keterbukaan mereka untuk mengungkap ke ruang publik dan mendiskusikan hal-hal terkait seks yang di zaman modern pun dianggap tabu. Hal itu juga mengajarkan bahwa wilayah “privat” dan “publik” tidaklah sebegitu jelas (clear-cut) sebagaimana yang umum dipahami saat ini.

Ironinya, dunia Muslim sekarang tampak lebih tertutup dari zaman pertengahan. Segalanya harus berlabel syari’ah dan halal. Tahun lalu, Abdelaziz Aouragh membuat berita heboh karena idenya untuk membuka toko “Seks Halal” di Mekkah.

Pengusaha keturunan Maroko yang membuka toko seks halal bernama “El Asira” di Belanda sejak 2010 itu berencana membuka cabang di jantung kota suci kaum Muslim. Walaupun Abdelaziz sudah meyakinkan para ulama Saudi bahwa produk-produk yang dijualnya sesuai dengan syari’ah, akhirnya rencana tersebut tak terwujud.

Seperti dapat dilihat di situs http://www.elasira.com, El Asira tidak menjual sex toys atau vibrators, tapi “produk-produk kami diperbolehkan oleh hukum Islam … memegang teguh integritas, kesucian manusia, dan etika yang sejalan dengan syari’ah.”

http://www.elasira.com

elasira.com

El Asira bukan satu-satunya bisnis “Islam erotis” yang muncul dalam beberapa tahun terakhir. Pengusaha Palestina Asyraf al-Kiswani meluncurkan toko seks online, Karaz.

Memang, sangat ambigu apa yang mereka maksud “toko seks halal”. Tapi kita paham, secara bisnis, mereka menyasar sekitar satu setengah miliar Muslim. Persoalannya, syari’atisasi seks merupakan invensi modern yang menyeret Islam sebagai “agama polisi” yang mengatur bahkan hubungan intim di atas ranjang. Yang lebih menyedihkan, syari’ah yang mereka pahami bukan hanya tidak menyerap semangat zaman modern, bahkan jauh dari visi zaman pertengahan.

Dalam Sexual Ethics and Islam (2006), Kecia Ali mengatakan bahwa ulama-ulama zaman pertengahan bukan hanya ahli syari’ah tapi juga guru seks. Isbahani dalam Kitab al-Aghanimemperlihatkan betapa perbincangan seks selain menghibur juga mendidik. Untuk tujuan “menghibur” dan “mendidik” itu, konon, dia menghimpun anekdot demi anekdot, yang serius dan lucu, bahkan kadang sangat erotis, selama 50 tahun!

Maka, mari kita bicara seks untuk mengurangi ketegangan.

*sumber : Mun’im Sirry | geotimes.co.id

Leave Your Appreciation ..