bastamanography.id

just another lost stories from another lost journey

Hari Kemanusiaan Dunia

SOCIAPOLITICA

Pesan-pesan Utama Untuk Asia Pasifik

Antara tahun 2008 dan 2014, 184 juta orang mengungsi akibat bencana. Hal ini setara dengan satu orang setiap detik. Selama delapan tahun terakhir, bencana alam telah menyebabkan 25.4 juta orang mengungsi. Asia adalah wilayah yang paling rawan bencana di dunia. Setiap tahun hampir 50% kejadian bencana terjadi di Asia. 60% kematian yang disebabkan kejadian bencana terjadi di Asia. 84% dari mereka yang terdampak bencana alam di dunia tinggal di wilayah Asia-Pasifik 84 juta orang terdampak banjir di Asia-Pasifik setiap tahun. Diperkirakan 200 juta anak per tahun akan terdampak bencana alam di tahun-tahun mendatang.

Memprioritaskan Penanggulangan Bencana

Penguatan kesiapsiagaan untuk respons bencana adalah prioritas untuk disepakati untuk wilayah Asia Pasifik. Tetapi tidak ada pendekatan satu ukuran yang cocok untuk semua dalam hal kesiapsiagaan[/perfectpullquote]Pasifik dan seluruh dunia. Diperkirakan 84% orang terdampak bencana alam tinggal di Asia-Pasifik1, dan 60% kematian yang disebabkan kejadian bencana terjadi di wilayah tersebut2. Secara global 25.4 juta orang mengungsi akibat bencana alam setiap tahun, termasuk 11.5 juta orang di Asia3. Antara 2005 dan 2016, bencana alam telah menyebabkan kerusakan infrastruktur di wilayah Asia senilai US$736 milyar. Asia-Pasifik adalah wilayah yang paling rawan bencana dan penanggulangan bencana menjadi prioritas regional, tetapi juga harus menjadi perhatian global. Sementara dunia bergulat menghadapi dampak kemanusiaan dari konflik yang sedang terjadi dan pada saat yang lain bencana besar terjadi apakah di Asia atau di tempat lain, keseluruhan sistem kemanusiaan akan bertanggung jawab atas seberapa cepat dan efektif dalam menangani bencana.

  1. Data 2005 – 2016 dari CRED EMAT untuk kekeringan, gempa, banjir, longsor, dan pergerakan massa (akibat kekeringan), badai, dan aktivitas vulkanik.
  2. Sama dengan di atas.
  3. Jumlah pengungsi disebabkan bencana alam di Asia Pasifik di tahun 2015
  4. Data 2005 – 2016 dari CRED EMAT untuk kekeringan, gempa, banjir, longsor, dan pergerakan massa (akibat kekeringan), badai, dan aktivitas vulkanik.

Penguatan kesiapsiagaan untuk respons bencana adalah prioritas yang disepakati untuk wilayah Asia Pasifik. Tetapi tidak ada pendekatan satu ukuran yang cocok untuk semua dalam hal kesiapsiagaan, akan tetapi harus berakar pada skenario nyata, serta analisis ilmiah atas bahaya dan ancaman. Pengalaman menunjukkan bahwa cara terbaik untuk meningkatkan kesiapan dalam respons cepat adalah dengan membuat kesepakatan pra-krisis antar sektor dan pemangku kepentingan di tingkat nasional tentang bagaimana upaya bekerja bersama, serta bagaimana bekerja dengan mitra regional dan internasional.

Mitigasi Risiko

Mitigasi risiko dan menangani dampak bencana mensyaratkan hubungan antara urusan kemanusiaan dan pembangunan. Seperti yang ditekankan dalam janji pasca Pertemuan Puncak Kemanusiaan Sedunia, berkurangnya dampak bencana pada manusia membutuhkan kaitan yang lebih kuat antara proses-proses kunci pasca 2015, termasuk Kerangka Sendai untuk Pengurangan Risiko Bencana, Kesepakatan Paris dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Hal tersebut akan membantu memastikan keselarasan yang lebih baik antara karya-karya kemanusiaan dan pembangunan, penguatan pengurangan risiko bencana dan respons bencana yang lebih efektif.

Respons Lokal Harus Didukung

Pada Hari Kemanusiaan Sedunia kita mengakui kontribusi yang sangat besar yang dimainkan oleh pelaku respons bencana. Di Asia-Pasifik, masyarakat lokal selalu menjadi pelaku respons awal dan akhir, dan penanggulangan bencana diperkuat ketika masyarakat aktif terlibat, terutama melalui pendekatan berbasis masyarakat untuk pengurangan risiko bencana yang membangun kapasitas lokal.

Penanggulangan bencana dalam konteks Asia-Pasifik didasarkan pada kepemimpinan nasional, dengan aktor regional dan internasional memperkuat upaya Pemerintah saat diperlukan. Penanggulangan bencana yang dipimpin pihak nasional tidak hanya mengacu pada Pemerintah; hal itu juga berarti pendekatan “seluruh masyarakat”, dengan lembaga usaha, masyarakat sipil, masyarakat terdampak dan para pelaku aktif lainnya dalam ruang multi-pelaku tersebut. Oleh karena itu, kesiapsiagaan yang efektif harus bersifat inklusif, menyatukan dan memberikan gambaran kapasitas beragam dari pemangkukepentingan di tingkat lokal, nasional, dan internasional.

Pemenuhan Agenda Kemanusiaan membutuhkan pemberdayaan dan sumber daya yang mencukupi bagi aksi kemanusiaan nasional dan lokal, termasuk penguatan manajemen lokal dan nasional untuk bencana alam dan perubahan iklim. Lebih banyak dukungan dan sumberdaya oleh karenanya harus ditempatkan pada pelaku respons lokal dan nasional termasuk untuk kapasitas kesiapsiagaan, respons dan koordinasi, terutama pada masyarakat rentan.

Akuntabilitas Kepada Masyarakat Terdampak Bencana Harus Diperkuat

Pada Hari Kemanusiaan Sedunia, kita menekankan kebutuhan untuk menempatkan masyarakat terdampak bencana sebagai pusat semua tindakan kemanusiaan. Masyarakat harus terlibat aktif dan ikut serta sebelum, saat, dan sesudah bencana agar tindakan kemanusiaan benar-benar relevan, tepat waktu, efektif dan efisien.

Individu penerima bantuan kemanusiaan harus terlibat dalam keputusan yang mempengaruhi kehidupan mereka, dan Pemerintah, pelaku kemanusiaan serta pembangunan harus berkomitmen pada dialog dua arah dan pelibatan terus menerus dari masyarakat sipil dan komunitas. Saat bencana, masyarakat terdampak memerlukan akses untuk informasi sebanyak untuk layanan kemanusiaan lainnya. Proses yang efektif untuk partisipasi dan umpan balik harus tersedia untuk memastikan kebutuhan dan pendapat dari semua bagian masyarakat terdampak tidak hanya didengar tetapi juga ditindaklanjuti untuk memastikan akuntabilitas kepada seluruh lapisan masyarakat.

Akuntabilitas kepada mereka yang terdampak harus dibangun secara sistematis pada aksi kemanusiaan oleh seluruh pelaku. Hal tersebut harus mencakup tidak hanya keterlibatan dengan beberapa bagian dari masyarakat tetapi dengan semua kelompok populasi termasuk mereka yang sulit untuk digapai seperti perempuan, anak muda, orang tua, disabilitas, dan minoritas.


Pesan-Pesan Global

Saat ini, skala penderitaan manusia lebih besar dari kapanpun sejak berakhirnya Perang Dunia Kedua. Sebagai akibat konflik dan bencana lebih dari 130 juta orang membutuhkan bantuan kemanusiaan untuk bertahan hidup. Secara bersama mereka dapat membentuk negara terpadat kesepuluh di bumi. Di balik angka statistik yang mengejutkan tersebut ada kehidupan nyata dan orang-orang yang nyata.

Hari Kemanusiaan Sedunia

Pada Hari Kemanusiaan Sedunia, kita menjawab panggilan solidaritas global dan berdiri bersama dengan setiap orang yang terdampak krisis. Kita bersatu dalam Satu Kemanusiaan.

Sebagai bagian dari Satu Kemanusiaan, kita lmengakui diri kita sebagai anggota dari keluarga yang sama, dengan pengalaman yang sama yang mengikat kita bersama. Sebagai bagian dari Satu Kemanusiaan, kita memiliki tanggung jawab yang sama untuk menuntuk tindakan menggapai mereka yang terjauh di belakang, dan untuk mendukung orang-orang yang paling rentan serta membutuhkan bantuan.

Tahun ini Hari Kemanusiaan Sedunia (World Humanitarian Day) mengambil tempat di penghujung momen penting dalam sejarah aksi kemanusiaan: Pertemuan Puncak Kemanusiaan Sedunia.

Dalam pertemuan tersebut, para pemimpin dari seluruh dunia menyatakan dukungan mereka untuk Agenda Kemanusiaan yang baru, dan mereka membuat komitmen bersama untuk mengurangi penderitaan dan memberikan bantuan dengan lebih baik untuk mereka yang terjebak dalam krisis.

Saat ini ada kebutuhan mendesak untuk melakukan hal yang baik atas janji-janji yang dibuat saat pertemuan tersebut, dan mengubah komitmen menjadi tindakan nyata. Karya tersebut akan menjadi upaya global dimana semua orang akan memiliki peran penting baik dari tingkat tertinggi dalam Pemerintahan hingga warga biasa dan masyarakat terdampak.

Dengan berbagi cerita dari mereka yang terdampak konflik dan bencana serta membuat daftar bantuan dari pendukung global dan influencer, kampanye One Humanity (Satu Kemanusiaan) akan menggalang dukungan orang-orang di seluruh dunia untuk menuntut komitmen yang lebih besar dan sokongan untuk aksi kemanusiaan.

Setiap hari pekerja bantuan berdiri di garis depan perang dan bencana, menantang bahaya dan kesulitan yang luar biasa untuk memberikan bantuan bagi mereka yang membutuhkan. Pada Hari Kemanusiaan Sedunia, kita mengingat dan menghargai mereka yang secara heroik telah kehilangan nyawa mereka dalam pelayanan kemanusiaan.

Selama lebih dari 20 tahun terakhir, 3.946 pekerja kemanusiaan telah tewas, terluka atau diculik saat bertugas. Staf nasional, 83.5 % dari jumlah tersebut, seringkali mengambil risiko terbesar untuk memberikan bantuan kepada orang yang membutuhkan.


Pertemuan Puncak Kemanusiaan dan Agenda Kemanusiaan

Dalam Pertemuan Puncak Kemanusiaan yang pertama kalinya diadakan pada tanggal 23 sampai 24 Mei di Istanbul, para pemimpin dunia datang bersama-sama dengan tujuan yang sama: untuk menegaskan kembali komitmen mereka untuk kemanusiaan dan menjadi bagian dari upaya bersama mengatasi penderitaan lebih dari 130 juta orang yang terdampak krisis kemanusiaan.

Secara total, Pertemuan tersebut menghasilkan lebih dari 3,000 komitmen individu dan komitmen bersama untuk mendukung Agenda Kemanusiaan dan lima tanggung jawab kunci.

Komitmen-komitmen tersebut bertujuan untuk mengatasi beberapa masalah kemanusiaan yang paling penting di dunia termasuk pemindahan paksa, mempromosikan kesetaraan gender, meningkatkan dan memperluas pembiayaan kemanusiaan, memperkuat sistem respons nasional dan lokal, serta memastikan kepatuhan terhadap hukum kemanusiaan dan hak asasi manusia.

Selain peluncuran Agenda Kemanusiaan, tahun 2016 juga menandai ulang tahun pertama penerapan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, seperangkat 17 sasaran global yang bertujuan untuk mengakhiri kemiskinan, memerangi ketidakadilan dan melindungi planet ini.

Dengan bergeraknya kita menuju upaya mewujudkan kedua agenda tersebut kedalam tindakan nyata, solusi inovatif dan kemitraan yang solid diperlukan antara komunitas kemanusiaan dan pembangunan.


Infographic : Agenda For Humanity – 5 Core Responsibilities

 
 
 
 
 

Leave Your Appreciation ..