bastamanography.id

just another lost stories from another lost journey

Dogma Skripsi, Tesis dan Disertasi

SCIENCE
TECHNOSCIENCE

Seperti yang kita ketahui bersama, dalam dunia pendidikan terutama di tingkat perkuliahan, hasil akhir penanda selesainya menimba ilmu dituangkan dalam suatu tulisan hasil penelitian ilmiah yang disesuaikan dengan jenjang pendidikannya. Sarjana (Strata 1) dituangkan dalam bentuk Skripsi, Magister (Strata 2) dituangkan dalam bentuk Tesis dan Doktoral (Strata 3) dituangkan dalam bentuk Disertasi.

Secara definisi maka dapat diterangkan sebagai berikut :

  • Skripsi

ditulis berdasarkan pendapat (teori) orang lain.  Pendapat tersebut didukung data dan fakta empiris-objektif, baik berdasarkan penelitian langsung, observasi lapangan, penelitian di laboratorium, atau studi kepustakaan. Skripsi menuntut kecermatan metodologis hingga mengarah kepada material berupa penemuan baru. Artinya di tingkat Strata 1, mahasiswa hanya cukup sampai tahap pembuktian dari solusi yang telah ada atas suatu masalah.

  • Tesis

ditulis bersandar pada metodologi yaitu metodologi penelitian dan metodologi penulisan. Standarnya terkait pada institusi, terutama pembimbing. Dengan bantuan pembimbing, mahasiswa merencanakan (masalah), melaksanakan; menggunakan instrumen, mengumpulkan dan menyajikan data, menganalisis, sampai mengambil kesimpulan dan rekomendasi. Di tingkat Strata 2, mahasiswa dituntut untuk dapat menemukan bukti dan solusi baru atas instrumen-instrumen atau masalah-masalah terpilih serta dan tidak menghasilkan teori baru.

  • Disertasi

ditulis berdasarkan kepada metodolologi penelitian yang mengandung filosofi keilmuan yang tinggi. Mahahisiswa (S3) harus mampu (tanpa bimbingan) menentukan masalah, berkemampuan berpikikir abstrak serta menyelesaikan masalah praktis. Disertasi memuat penemuan-penemuan baru, pandangan baru yang filosofis, tehnik atau metode baru tentang sesuatu sebagai cerminan pengembangan ilmu yang dikaji dalam taraf yang tinggi. Di tingkat Strata 3 ini, mahasiswa wajib melahirkan suatu teori baru.

Selama ini, paparan di atas menjadi dogma atas suatu batasan kepada para mahasiswa, para pengajar, para pembimbing dan para penguji dalam debat ilmiah, sehingga sungguh terasa kebebasan berekspresi atas ilmu yang telah dipelajarinya selama menjalani perkuliahan pun tersekat oleh batasan-batasan yang dideskripsikan para manusia, artinya mahasiswa tidak bisa menunjukkan kemampuannya lebih dari itu meskipun mampu membuktikan dalam sidang ilmiah. Misalnya mahasiswa strata 1 tidak diperkenankan menemukan fakta baru atau bahkan teori baru, dan mahasiswa strata 2 pun tidak diperkenankan melampaui koridor strata 2 dan memasuki koridor strata 3 dalam penelitian ilmiahnya meskipun memiliki kapabilitas, kapasitas dan kesempatan untuk itu.

you will never be allowed to be out of the box thinker

[nextpage title=”Ada satu kisah …”]

Ada satu kisah yang dihadirkan di salah satu media online, dimana seorang mahasiswa Strata 1 menolak teori yang sudah ada dan menghadirkan teori di luar prakiraan pengujinya dengan debat ilmiah yang sangat mengagumkan. Hasilnya pun dapat ditebak, TIDAK LULUS!

Namun mahasiswa tersebut bertanya, “mohon maaf Prof., mohon dapat ditunjukkan kesalahan saya atas skripsi saya, jika memang salah, saya menerima dengan besar hati keputusan dewan penguji”. Dan Profesor itu pun berkata, “jika saja seluruh mahasiswa saya seperti anda, maka hidup saya akan bahagia sekali, dan dengan ini saya sampaikan kembali putusan Dewan Penguji yang saya ketuai atas skripsi anda, maka atas penilaian beradasarkan sidang akademis yang berlangsung hari ini terhadap skripsi anda, anda saya nyatakan LULUS DENGAN NILAI SANGAT MEMUASKAN. Sontak seluruh pengajar dan teman-teman mahasiswa tersebut yang hadir pun bertepuk tangan atas kebahagiaan tersebut. Namun apa iya seluruh Profesor dapat dengan bijak seperti itu?

Mungkin ini ya ya membuat hasil-hasil dunia pendidikan di Indonesia hanya segelintir orang saja yang kualitasnya mendunia dari sekian juta rakyat Indonesia yang menjalanin pendidikan di Indonesia.

Memangnya apakah merupakan dosa besar jika mahasiswa mampu membuktikan pemikiran ilmiahnya di luar ekspetasi para pengajar, para pembimbing dan para pengujinya?? Bagaimana jika kemampuan ilmiah mahasiswa tersebut ternyata di atas kemampuan guru-gurunya, seperti Albert Einstein yang dikeluarkan dari sekolahnya pada usia 16 tahun karena dinyatakan bodoh? Atau Thomas Alva Edison yang dianggap murid tidak berbakat sehingga pun pada usia 7 tahun dikeluarkan dari sekolahnya?

Leave Your Appreciation ..